Pemanis Sintetis Yang Aman Dikonsumsi Oleh Penderita Diabetes Adalah?

Pemanis Sintetis Yang Aman Dikonsumsi Oleh Penderita Diabetes Adalah
6 Pemanis Ini Bisa Menjadi Alternatif Gula Pengganti Bagi Penderita Diabetasol JUser: :_load: Unable to load user with ID: 737 Pemanis Sintetis Yang Aman Dikonsumsi Oleh Penderita Diabetes Adalah Penderita diabetes memang sudah sepatutnya menjaga pola makan untuk mengontrol kadar gula darahnya. Hal itu dilakukan demi menghindari komplikasi diabetes yang lebih parah, termasuk kerusakan saraf dan penyakit kardiovaskular. Dilansir dari Mayo Clinic, diabetes berpotensi menimbulkan komplikasi terhadap organ-organ penting tubuh.

Adapun tiga komplikasi diabetes yang paling banyak terjadi dan sering membuat pasien meninggal dunia di antaranya penyakit jantung, stroke, penyakit liver, dan penyakit ginjal. Jika penderita diabetes telah memasuki fase komplikasi tentunya bisa berakibat fatal hingga berujung kematian. Maka, salah satu asupan yang harus dihindari para penderita diabetes adalah gula.

Meski demikian bukan berarti penderita diabetes tidak bisa lagi merasakan nikmatnya rasa manis. Sebab ada beberapa pemanis pengganti gula pasir bagi penderita diabetes melansir Medical 1. Stevia Stevia adalah pemanis alami yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana yang banyak tumbuh di Paraguay dan Brasil.

Stevia dibuat melalui proses ekstraksi senyawa kimia bernama steviol glycosides yang terdapat pada daun tanaman. Setelah melalui proses pengolahan yang lebih lanjut diperoleh serbuk putih yang 300 kali lebih manis daripada sukrosa, atau gula pasir yang ada biasanya. Meski demikian, Stevia memiliki beberapa pro dan kontra yang perlu dipertimbangkan oleh penderita diabetes.

Pemanis ini bebas kalori dan tidak menaikkan kadar gula darah. Namun, seringkali lebih mahal daripada pengganti gula lainnya di pasaran. Selain mahal, Stevia juga memiliki cita rasa pahit yang tidak disukai oleh sebagian orang. Bahkan, beberapa produsen menambahkan gula dan bahan lain untuk menciptakan rasa manis, yang justru berpotensi mengurangi manfaat stevia bagi kesehatan.

2. Tagatose 3. Sukralosa 4. Aspartam 5. Neotam 6. Sakarin

Pemanis alami yang juga aman untuk penderita diabetes adalah tagatose atau tagatosa. Tagatosa diproduksi menggunakan proses enzimatisasi dari unsur galaktosa pada susu. Meski dihasilkan dari proses kimiawi, tagatosa yang termasuk dalam golongan fruktosa ini dinyatakan 90 persen lebih manis dari sukrosa (gula pasir).

Tagatose juga dapat dihasilkan dari beberapa buah-buahan berdaging manis seperti apel, jeruk, dan nanas. Umumnya, tagatose digunakan sebagai pemanis pada makanan, penambah tekstur, dan stabilizer rendah kalori. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan sertifikat yang menyatakan tagatose ini aman dikonsumsi oleh semua kalangan.Tak hanya itu, menurut penelitian, tagatosa memiliki indeks glikemik (GI) yang rendah sehingga cocok digunakan dalam pengobatan pasien obesitas.

Berlaku pula bagi penderita diabetes yang sedang menjalani diet rendah Indeks glikemik. Pemanis pengganti gula berikutnya yakni sukralosa. Pemanis alami ini terbuat dari sukrosa yang telah melalui proses kimiawi. Sukralosa 600 kali lebih manis daripada gula meja dengan kandungan kalori yang lebih rendah sehingga sangat aman untuk penderita diabetes.

See also:  Mengapa Luka Pada Penderita Diabetes Sulit Sembuh?

Sukralosa adalah salah satu pemanis buatan yang paling populer, dan tersedia secara luas. Beberapa produsen makanan juga kerap menambah sukralosa ke berbagai produk mulai dari permen karet, sereal dan olahan lainnya. Keunggulan lainnya yakni pemanis alami ini lebih tahan panas dibandingkan jenis lain yang rasanya mudah berubah ketika dipanaskan pada suhu yang tinggi.

Hal ini menjadikan sukralosa kerap dipilih sebagai bahan baku membuat kue dan pemanis minuman panas. FDA menganjurkan penggunaan sukralosa yang aman adalah sebesar 5 mg per kg berat badan. Misalnya, seseorang memiliki berat badan sekitar 60 kilogram, maka jumlah sukralosa yang aman dikonsumsi adalah 2 sampai 3 bungkus saset dalam sehari.

  • Aspartam adalah pemanis buatan yang sangat umum tersedia di AS sejak 1980-an.
  • Aspartam sering dipilih warga karena memiliki rasa yang manis.
  • Bahkan, 200 kali lebih manis dari gula pasir biasa.
  • Produk ini kerap digunakan oleh sejumlah produsen makanan dalam beberapa menu mereka, mulai dari makanan, hingga minuman diet soda.

Tidak seperti sukralosa, aspartam kurang baik jika diolah pada suhu yang tinggi. Hal tersebut karena rasa manis pada aspartam mudah rusak pada suhu tinggi sehingga jarang digunakan saat memasak dan sering dijadikan sebagai hiasan di meja. Aspartam juga tidak aman untuk orang dengan kelainan genetik langka yang dikenal sebagai fenilketonuria.

FDA menganjurkan jumlah aspartam yang aman dikonsumsi yakni tidak lebih dari 50 miligram per kilogram berat badan. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki berat 60 kilogram dapat mengonsumsi 7,5 bungkus aspartam dalam bentuk saset kecil. Neotam adalah jenis pemanis buatan rendah kalori yang memiliki derajat kemanisan sangat tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian, neotam 7.000-13.000 kali lebih manis dari gula pasir yang biasa dikonsumsi. Pemanis ini mampu bertahan di suhu tinggi, sehingga cocok digunakan saat memasak atau membuat pangan lain yang membutuhkan suhu tinggi. Beberapa ahli sepakat, neotam aman digunakan untuk manusia dari berbagai usia.

  • Sementara itu, FDA menganjurkan jumlah penggunaan neotam yang aman adalah 0,3 miligram per kilogram berat badan.
  • Jika seseorang memiliki berat badan 60 kilogram, maka jumlah konsumsi neotam yang aman adalah berjumlah 2 sampai 3 bungkus per hari.
  • Sakarin merupakan pemanis yang terbuat dari proses oksidasi zat kimia.

Pemanis ini aman untuk penderita diabetes karena nol kalori dan 200-700 kali lebih manis dari gula pasir. Meski pernah dianggap dapat menyebabkan kanker kandung kemih oleh sejumlah ilmuwan. Namun, National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat telah mendukung penggunaan sakarin untuk pasien diabetes karena aman dan tidak berpotensi menyebabkan kanker.

FDA menganjurkan jumlah takaran yang tepat dalam mengkonsumsi sakarin adalah 15 miligram per kilogram berat badan. Jika seseorang memiliki berat badan 60 kg, maka ia dapat mengonsumsi 4 sampai 5 saset sakarin per hari. Itulah beberapa pilihan pemanis pengganti gula yang bisa dipilih oleh penderita diabetes Meski demikian, perlu diingat bahwa tidak semua pemanis alternatif tersebut merupakan pilihan yang baik untuk penderita diabetes apalagi dikonsumsi tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Sumber : health.grid.id https://health.grid.id/read/352399639/masih-bisa-rasakan-manis-penderita-diabetes-bisa-pilih-6-pemanis-pengganti-gula-pasir-ini?page=all Penulis : Callista Dora Islamey Pasya Editor : Titis Nurmalita : 6 Pemanis Ini Bisa Menjadi Alternatif Gula Pengganti Bagi Penderita Diabetasol

See also:  Obat Diabetes Yang Ditanggung Bpjs?

Apakah sakarin sintetis?

Apa itu sakarin? – Sakarin adalah pemanis buatan yang tidak bernutrisi serta tidak berkalori. Pemanis yang tak bisa dicerna tubuh ini berbentuk bubuk yang berwarna putih dan dibuat dengan mengoksidasi zat kimia yang disebut o-toluene sulfonamide atau phthalic anhydride, Sakarin sering ditambahkan ke berbagai produk kemasan Saccharine sering dicampurkan dengan pemanis lain, seperti aspartam, ke dalam berbagai produk. Pasalnya, sakarin mengeluarkan aftertaste (rasa yang tertinggal di mulut setelah makan atau minum) pahit yang mungkin tidak disukai beberapa orang, sehingga harus dikombinasikan.

Apakah gula sintetis?

Gula sintetis adalah bahan tambahan yang dapat memberikan rasa manis dalam makanan tetapi tidak memiliki nilai gizi.

Apakah aspartam aman bagi kesehatan?

Tak Perlu Khawatir, Pemanis Buatan Aspartam Aman Buat Tubuh Jakarta – Pesan ini sejak semalam berseliweran di antara pemilik Blackberry: “Saat ini sedang mewabah pengerusakan otak/sumsum tulang belakang. Jangan minum produk (merek-merek minuman yang populer di pasaran-red).KARENA MENGANDUNG ASPARTAME/racun yg menyebabkan diabetes & bs mematikan.”Benarkah aspartam berbahaya? Jika Anda cermat melihat komposisi beberapa produk minuman, Anda akan menemukan kata aspartam di bagian kemasannya.

  1. Aspartam memang banyak digunakan dalam produk minuman sebagai pengganti gula sukrosa.Di satu sisi, berbagai artikel, pengalaman pribadi dan golongan anti aspartam menghubungkan antara konsumsi aspartam dengan masalah kesehatan, mulai dari hiperaktif, pengerasan otak hingga impotensi.
  2. Di sisi lain, para ilmuwan dan peneliti melaporkan bahwa penggunaan aspartam baik-baik saja dalam dosis tertentu.

ADVERTISEMENT SCROLL TO RESUME CONTENT Untuk menanggapi kontroversi aspartam yang membuat teror di masyarakat, ada baiknya mengenal aspartam lebih dalam lagi.Aspartam adalah pemanis buatan yang dihasilkan dari dua jenis asam amino dan metil alkohol. Aspartam punya kekuatan manis 160 hingga 220 kali lebih tinggi daripada gula sukrosa.Penggunaan aspartam ditujukan untuk mengurangi jumlah kalori gula dan biasanya dipakai pada produk-produk diet atau untuk penderita dengan kebutuhan medis tertentu, seperti diabetes.Gula sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh jika dikonsumsi dalam batas wajar.

  1. Satu sendok teh gula hanya menyumbang 16 kalori atau sekitar 67 kilojoule pada energi.
  2. Yang menjadi bahaya adalah jika seseorang mengonsumsinya dalam dosis berlebihan.Tidak heran jika seseorang menyukai gula, karena secara genetik manusia memang terlahir untuk menyukai yang manis-manis.
  3. Untuk itulah pemanis buatan dibuat untuk mengantisipasi asupan gula (sukrosa) berlebih yang bisa mengakibatkan kerusakan gigi.Aspartam adalah salah satu pemanis buatan yang dibuat untuk mengatasi solusi tersebut.
See also:  How Many People Are Diagnosed With Diabetes Each Year?

Namun di balik sebuah inovasi, pasti ada kontroversi, begitu juga dengan aspartam. Beberapa badan kesehatan hingga saat ini masih mengklasifikasikan aspartam sebagai pemanis buatan yang aman.Menurut American Dietetic Association (ADA), pemanis aspartam aman dalam jumlah tertentu seperti yang direkomendasikan Food and Drug Administration (FDA).

Hasil riset yang dilakukan FDA menyebutkan, aspartam masih dalam batas aman untuk manusia jika konsumsi per harinya sebanyak 50 mg/kg berat badan.Sementara itu, European Commission’s Scientific Committee on Food (SCF) jauh-jauh hari pada tahun 1998 sudah menyatakan bahwa aspartam aman. Namun karena banyak isu miring yang menyatakan aspartam berbahaya, maka SCF melakukan analisis data terhadap 500 studi tentang aspartam yang pernah ada sejak tahun 1998 hingga 2001.Hasil analisis SCF menunjukkan, aspartam tetap aman dan tidak ada bukti kuat yang mengharuskan mereka mencabut pernyataan sebelumnya.

Berdasarkan Acceptable Daily Intake (ADI), asupan aspartam yang direkomendasikan SCF adalah 40 mg/kg berat badan.Meski semua pakar kesehatan sudah menyatakan aspartam aman, mengapa publik masih menganggap aspartam berbahaya?Hal itu karena salah satu asam amino dalam aspartam adalah phenylalanine dan beberapa orang di dunia ini terlahir dengan kondisi genetik yang disebut phenylketonuria (PKU).Penderita PKU tidak bisa memetabolisme asam amino phenylalanine dalam tubuhnya.

Hal itu membuat penderitanya akan mengalami gejala mual-mual, pusing dan lainnya saat mengonsumsi produk yang mengandung aspartam.Untuk itu sebaiknya produk-produk yang mengandung aspartam diberi label ‘mengandung phenylalanine’ atau ‘tidak disarankan untuk penderita phenylketonuria’ untuk mengingatkan konsumen akan kandungan phenylketonuria yang bisa memicu ketidaknyamanan pada penderita PKU.”Kontroversi ini akan terus terjadi jika publik tidak segera diberitahu.

Publik harus menghormati studi panjang dan besar yang sudah dilakukan badan-badan kesehatan dunia. Mereka semua sepakat menyimpulkan bahwa aspartam aman untuk manusia, jadi tak perlu merasa khawatir atau takut berlebihan saat mengonsumsi produk yang di labelnya tercantum nama aspartam,” ujar Dr Ingrid van Heerden seperti dilansir Health24, Kamis (11/2/2010).

Apa dampak negatif dari pemanis sintetis?

4. Darah tinggi dan penyakit kardiovaskular – Sudah banyak studi yang membuktikan bahwa konsumsi gula berlebih dapat mengganggu kerja jantung untuk memompa darah. Studi lainnya menunjukkan bahwa konsumsi pemanis buatan dalam porsi berlebih dapat meningkatkan tekanan darah dan merangsang hati untuk membuang lemak ke aliran darah.

Apa saja zat aditif sintetis?

Zat Penyedap Rasa –

Penggunaan penyedap rasa bertujuan untuk menambah cita rasa makanan agar terasa lebih sedap dan tidak hambar. Contoh zat aditif yang banyak digunakan sebagai penyedap rasa: – Zat aditif alami: cabai dan lada sebagai perasa pedas, garam, gula, daun salam, daun jeruk, lengkuas dan lain-lain.

Adblock
detector