Kapan Penderita Diabetes Harus Suntik Insulin?

Siapa yang perlu melakukan suntik insulin untuk diabetes? Umumnya, orang yang harus menggunakan suntik insulin adalah mereka yang memiliki diabetes tipe 1. DM tipe 1 disebabkan kondisi autoimun yang membuat sel-sel dalam pankreas yang memproduksi insulin menjadi rusak.

Apakah diabetes tipe 2 harus suntik insulin?

Mengapa Suntik Insulin pada Pengidap Diabetes Penting? – Seluruh pengidap diabetes tipe 1 dan sebagian pengidap diabetes tipe 2 memerlukan suntik insulin. Sebab, suntik insulin bertujuan untuk membantu mengelola kadar gula darah pada tubuh pengidap diabetes.

  1. Selain itu, suntik insulin juga berfungsi sebagai pengganti atau suplemen insulin pada tubuh.
  2. Pengidap diabetes tipe 1 tidak dapat menghasilkan insulin, jadi mereka harus menyuntikan insulin untuk mengontrol kadar glukosa pada darah.
  3. Sedangkan, sebagian besar pengidap diabetes tipe 2 masih dapat mengelola kadar glukosa darah mereka dengan penggunaan obat-obatan dan penerapan gaya hidup sehat.

Namun, bila langkah tersebut tidak mampu meningkatkan kontrol atas kadar glukosa pada darah, maka pengidap diabetes tipe 2 juga membutuhkan suntik insulin.

Kapan waktu untuk suntik insulin?

2. Short-acting insulin (insulin reguler/insulin kerja pendek) –

  • Insulin reguler juga mampu menurunkan kadar gula darah dengan cepat, meskipun tak secepat insulin rapid-acting.
  • Biasanya, pasien diabetes menggunakan suntik insulin ini pada 30-60 menit sebelum makan.
  • Insulin reguler mampu mencapai pembuluh darah dalam waktu 30-60 menit dan bekerja dengan cepat dengan menghabiskan waktu 2-5 jam.
  • Obat ini juga mampu mempertahankan kadar gula darah selama 5-8 jam.

Kapan pasien tidak boleh di injeksi insulin?

Apakah injeksi dosis insulin benar-benar akan menjadi akhir hidup dari seorang pasien diabetes? “Dok, Bolehkah saya meminum obat saja tanpa harus menggunakan suntikan?” Pertanyaan seperti diatas adalah pertanyaan yang umum ditanyakan oleh pasien penderita diabetes disaat harus menerima resep pengobatan insulin.

  • Umumnya pasien diabetes memiliki ketakutan bila harus menggunakan insulin.
  • Hal-hal yang menjadi perhatian bagi pasien tersebut adalah adanya anggapan bahwa jika menggunakan insulin artinya pasien tersebut sudah terkena diabetes yang parah, dan juga mereka berpikir jika telah menggunakan insulin berarti selamanya akan menggunakan insulin dan tidak bisa beralih kembali menggunakan obat minum.

Namun apakah anggapan-anggapan diatas benar? Sebenarnya pemberian insulin oleh dokter melalui berbagai pertimbangan tertentu dan diharapkan akan membantu kerja dari kelenjar ludah perut untuk menghasilkan insulin sehingga meringankan kerja dari kelenjar ludah perut.

Berapa harga 1x suntik insulin?

Insulin erat kaitannya dengan penderita diabetes. Harga insulin di apotik, berkisar antara Rp150 ribu – Rp1 jutaan. Memang terbilang mahal karena proses pembuatannya rumit agar sangat mirip dengan fungsi asli insulin dari pankreas. Dalam dunia medis, insulin adalah hormon yang berperan mengatur gula darah.

Setiap orang memiliki insulin yang dihasilkan organ pankreas. Namun, ketika pankreas mengalami kegagalan fungsi, maka tubuh membutuhkan insulin buatan atau sintetik. Asupan harian yang mengandung gula, diproses menjadi energi oleh hormon ini. Sehingga kamu dapat aktif bergerak. Kemudian, energi yang tersisa, disimpan ke organ lain untuk jadi sumber energi cadangan.

Pada penderita diabetes, gula gagal diproses secara sempurna akibat jumlah hormon yang tidak memadai. Alhasil, terjadilah penimbunan gula dalam darah. Demi membantu mengembalikan fungsi pankreas, maka dipilih suntik insulin. Harga insulin di Indonesia mulai dari ratusan hingga jutaan rupiah.

Apakah suntik insulin dapat menyembuhkan diabetes?

Kondisi Diabetes yang Membutuhkan Suntik Insulin dan Cara Pemakaiannya Suntik insulin merupakan salah satu pengobatan untuk penderita diabetes. Meski demikian, obat suntik ini tidak bisa digunakan sembarangan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik terkait dosis dan cara penggunaannya, agar obat dapat bekerja secara maksimal.

Apakah suntik insulin bagus?

Bagi para diabetesi (sebutan untuk penderita diabetes melitus ), suntik insulin adalah salah satu cara terbaik untuk membantu mengontrol kadar gula darah agar tetap stabil. Meski begitu, insulin juga memiliki potensi efek samping. Efek samping suntik insulin bisa berkisar dari ringan sampai berat hingga membutuhkan penanganan darurat. Mari bahas lebih dalam pada ulasan berikut ini.

Apakah harus suntik insulin terus menerus?

Apakah pasien diabetes harus suntik insulin seumur hidup? – Kapan Penderita Diabetes Harus Suntik Insulin

  • Dosis dan frekuensi untuk suntik insulin, antara satu orang dengan yang lainnya bervariasi.
  • Menurut, umumnya penderita DM tipe 1 hanya perlu 2 atau 3-4 kali suntikan insulin sehari.
  • Ada juga yang membutuhkan 4-6 kali suntik dalam satu hari, terutama ketika kondisi kesehatannya menurun misalnya karena sakit.

Namun, bagaimana dengan lamanya? Apakah penderita diabetes harus suntik insulin seumur hidupnya? Banyak yang menganggap, ketika Anda sudah diresepkan insulin suntik, maka selamanya Anda harus melakukan suntik. Nyatanya, tidaklah demikian. Berapa lama Anda harus suntik insulin sangat tergantung dengan perkembangan kondisi masing-masing pasien.

  • Umumnya, penderita diabetes tipe 2 tidak harus suntik insulin seumur hidupnya.
  • Beberapa dari mereka bisa lepas suntik ketika kondisinya dianggap dokter telah mampu tanpa insulin.
  • Akan tetapi, banyak juga yang harus memakainya hingga bertahun-tahun akibat penyakit komplikasi diabetes yang muncul.
  • Lantas, bagaimana dengan diabetesi tipe 1? Sayangnya, hingga kini terapi insulin masih menjadi pengobatan utama untuk mengontrol gula darah pada DM tipe 1.
See also:  Organ Dalam Manusia Yang Pertama Terkena Dampak Dari Penyakit Diabetes?

Tak mampunya tubuh memproduksi insulin sama sekali membuat mereka harus menggunakan insulin suntik seumur hidup.

Suntik insulin pagi jam berapa?

Selasa, 12 November 2019 18:39 WIB – Kapan Penderita Diabetes Harus Suntik Insulin Ilustrasi insulin, obat diabetes. Sumber: McGuff Company, Inc/mirror.co.uk TEMPO.CO, Jakarta – Insulin memiliki peran yang sangat penting bagi tubuh manusia. Ia bekerja dengan cara menyalurkan gula pada darah ke otot. Sehingga, gula tersebut pun bisa digunakan tubuh sebagai bahan energi.

Sayangnya, bagi pasien diabetes kondisi insulin mereka tidak baik. Penderita diabetes tipe 1 memiliki jumlah insulin yang sedikit, sedangkan penderita diabetes tipe 2 tidak memiliki insulin sama sekali. Oleh sebab itu, penyuntikan insulin ke dalam tubuh perlu dilakukan agar gula menjadi energi dan tidak tetap dalam darah sehingga menyebabkan berbagai komplikasi.

Meski demikian, menyuntik insulin tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Ada beberapa aturan yang wajib dipahami agar insulin bekerja dengan baik di dalam tubuh. Sekretaris Jenderal PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) Em Yunir pun menjelaskan tiga diantaranya.1.

  • Harus disuntik pada bagian tubuh yang benar Untuk mendapatkan manfaat dari insulin, seseorang harus menyuntikkannya dengan benar.
  • Dokter Em Yunir mengatakan bahwa penyuntikan tidak boleh dilakukan lewat pembuluh darah.
  • Melainkan, ini harus dikerjakan pada bagian tubuh yang memiliki banyak kadar lemak.

“Yang benar, suntik insulin harus di daerah perut, paha atau bokong. Kalau Anda atau keluarga tidak bisa melakukannya, minta tenaga ahli yang benar-benar berkompeten,” katanya dalam acara media gathering di Kementerian Kesehatan Jakarta pada Senin, 11 November 2019.2.

Kadar insulin harus disesuaikan dengan kebutuhan Kadar insulin yang dibutuhkan setiap orang berbeda-beda. Ini disesuaikan dengan berat badan hingga aktivitas fisik yang dikerjakan. Jadi, Em Yunir menyarankan agar setiap orang menganalisa keduanya sebelum pemberian insulin. Karena jika insulin diberikan dalam kadar yang berlebihan, berbagai masalah kesehatan justru dapat terjadi.

“Gula akan turun drastis dan pasien mengalami hipoglikemia. Ini bahaya sekali karena berpengaruh pada kerja otak dan pasien bisa kejang-kejang,” ungkapnya.3. Waktu penyuntikan Waktu penyuntikan insulin sangat penting untuk dipahami. Jika seseorang melewatkan waktu tersebut, ia pun akan mengalami lonjakan gula darah dengan cepat.

Bolehkah suntik insulin di pagi hari?

Meskipun demikian, penyuntikan insulin ini harus dilakukan di waktu yang sama setiap harinya, bila ibu anda hendak menyuntikkan di pagi hari, maka seterusnya harus disuntikkan di pagi hari, bila ibu anda hendak menyuntikkan di malam hari, maka seterusnya harus disuntikkan di malam hari.

Apa boleh suntik insulin setelah makan?

Penyuntikan insulin ini dilakukan 15 menit sebelum makan atau 20 menit setelah makan. Lakukan penyuntikan insulin pada titik suntik yang berbeda pada setiap kali suntik.

Berapa kali harus suntik insulin sehari?

6.1.1 Insulin | PIO Nas 6.1.1.1 Insulin Kerja Singkat 6.1.1.2 Insulin Kerja Sedang dan Lama Insulin berperan mengatur metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Insulin merupakan hormon polipeptida dengan struktur kompleks. Ada perbedaan susunan asam amino pada insulin hewan, insulin manusia, dan analog insulin manusia.

Insulin dapat diekstraksi dari pankreas babi atau pankreas sapi dan dimurnikan dengan kristalisasi, tetapi insulin dari pankreas sapi sekarang jarang digunakan. Insulin untuk manusia dibuat secara biosintetis dengan teknologi rekombinan DNA menggunakan bakteri atau ragi atau semisintetik dengan modifikasi enzimatik insulin babi.

Semua sediaan insulin umumnya imunogenik pada manusia tetapi resistensi imunologis terhadap kerja insulin tidak lazim terjadi. Secara teori sediaan insulin yang sesuai dengan insulin manusia kurang imunogenik, tetapi hal ini tidak terbukti dalam uji klinik.

Insulin dirusak oleh enzim dalam saluran cerna oleh karena itu harus diberikan melalui injeksi atau inhalasi; rute subkutan memberihasil yang baik pada semua kondisi. Insulin biasanya disuntikkan pada lengan atas, paha, glutea atau perut. Umumnya injeksi subkutan insulin menyebabkan sedikit masalah, bisa terjadi hipertrofi lemak yang dapat dikurangi dengan menyuntikkan di daerah yang berbeda.

Alergi lokal jarang terjadi. Insulin diperlukan oleh semua pasien dengan ketoasidosis dan biasanya diperlukan oleh pasien dengan:

  • Gejala-gejala yang muncul cepat
  • Kehilangan banyak berat badan
  • Kondisi lemah
  • Ketonuria
  • Riwayat keluarga dekat (ayah-ibu) adalah penderita Diabetes Mellitus tipe 1
See also:  How Do You Get Diagnosed With Diabetes?

Jika keadaan memburuk, dapat terjadi muntah dan pasien dapat dengan cepat mengalami ketoasidosis. Insulin dibutuhkan oleh hampir semua pasien anak penderita diabetes. Juga dibutuhkan oleh pasien diabetes tipe 2 jika cara lain gagal mengendalikan DM dan digunakan sementara oleh pasien yang sakit atau akan menjalani operasi.

Wanita hamil dengan diabetes tipe 2 sebaiknya diobati dengan insulin jika upaya diet ternyata gagal. Penanganan diabetes dengan insulin, Tujuan pengobatan diabetes adalah untuk mengatur kadar gula darah tetap baik sehingga membuat pasien nyaman dan menghindari hipoglikemia, diperlukan kerja sama yang baik antara pasien dan dokter dalam menurunkan resiko komplikasi diabetes.

Kombinasi sediaan insulin mungkin dibutuhkan dan kombinasi yang tepat harus ditentukan untuk tiap pasien. Untuk pasien dengan diabetes akut, pengobatan sebaiknya dimulai dengan memberikan insulin soluble 3 kali sehari dan insulin kerja sedang pada malam hari.

Untuk pasien yang tidak terlalu parah, pengobatan biasanya dimulai dengan campuran insulin kerja singkat dan sedang (biasanya 30% insulin soluble dan 70% insulin isophane) diberikan 2 kali sehari; 8 unit dua kali sehari untuk pasien rawat jalan. Proporsi sediaan insulin kerja singkat dapat ditingkatkan pada pasien dengan hiperglikemia postprandial yang berat.

Dosis insulin disesuaikan untuk setiap individu, dengan cara meningkatkan dosis secara bertahap tetapi dengan tetap menghindarkan terjadinya hipoglikemia. Ada 3 macam sediaan insulin:

  1. Insulin kerja singkat ( short-acting ): mula kerja relatif cepat, yaitu insulin soluble, insulin lispro dan insulin aspart;
  2. Insulin kerja sedang ( intermediate-acting ): misalnya insulin isophane dan suspensi insulin seng;
  3. Insulin kerja panjang dengan mula kerja lebih lambat: misalnya suspensi insulin seng.

Lama kerja untuk tiap tipe insulin bervariasi pada tiap individu sehingga perlu dinilai secara individual. Contoh dosis insulin yang dianjurkan

  • Insulin kerja singkat dikombinasi dengan insulin kerja sedang: dua kali sehari (sebelum makan);
  • Insulin kerja singkat dikombinasi dengan insulin kerja sedang: sebelum makan pagi Insulin kerja singkat: sebelum makan malam Insulin kerja sedang: malam sebelum tidur;
  • Insulin kerja singkat: 3 kali sehari (sebelum makan pagi, makan siang dan makan malam) dikombinasi dengan insulin kerja sedang: pada waktu sebelum tidur malam;
  • Insulin kerja sedang dengan atau tanpa insulin kerja singkat: cukup sekali sehari sebelum makan pagi atau sebelum tidur malam untuk beberapa pasien dengan diabetes tipe 2 yang memerlukan insulin, kadang-kadang dikombinasi dengan obat hipoglikemik oral.

Kebutuhan insulin meningkat dengan adanya infeksi, stres, kecelakaan atau trauma bedah, pubertas dan selama kehamilan trimester 2 dan 3. Kebutuhan mungkin menurun pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (lampiran 3) atau gangguan fungsi hati dan pada beberapa pasien gangguan endokrin (misalnya Addison’s disease, hipopituarism) atau celiac disease,

  1. Selama menyusui, dosis insulin perlu disesuaikan, pada wanita hamil kebutuhan insulin sebaiknya sering dinilai ulang oleh dokter spesialis endokrinologi yang berpengalaman.
  2. Pemberian insulin Insulin umumnya diberikan melalui injeksi subkutan.
  3. Sediaan insulin untuk inhalasi juga tersedia.
  4. Alat injeksi ( pens ) yang menyimpan insulin dalam alat suntik ( cartridge ) dan mengukur dosis yang dibutuhkan nyaman dan mudah digunakan oleh pasien.

Penggunaan alat suntik konvensional untuk pemberian insulin masih merupakan pilihan bagi banyak pasien dan juga dibutuhkan untuk insulin yang tidak tersedia dalam bentuk cartridge, Untuk pemberian intensif biasanya dianjurkan insulin injeksi subkutan 3-4 kali sehari.

  1. Insulin kerja singkat (insulin soluble, insulin aspart dan insulin lispro), dapat juga diberikan dengan suatu alat yang berfungsi sebagai pompa kecil untuk infus subkutan terus menerus.
  2. Alat ini akan melepas insulin dosis pemeliharaan yang sesuai dengan dosis basal terus menerus kecuali saat makan dapat diatur untuk melepas dosis bolus.

Soluble insulin yang diberikan intravena hanya diberikan pada keadaan darurat, dan pada keadaan sakit parah atau pada saat sebelum tindakan bedah. Pengawasan Beberapa penderita melakukan pengawasan kadar gula darah sendiri (butir 6.1.6). Kadar gula darah bervariasi sepanjang hari, oleh karena itu normoglikemia tidak dapat selalu dicapai sepanjang 24 jam tanpa menimbulkan hipoglikemia.

Karena itu sebaiknya pasien dianjurkan untuk mempertahankan kadar gula darah antara 4-9 mmol/liter (4-7 mmol/liter sebelum makan dan kurang dari 9 mmol/liter setelah makan), dan mengerti bahwa kadang-kadang kadar dapat lebih tinggi dalam waktu singkat dan hal ini tidak berbahaya, yang sebaiknya dicegah adalah justru kadar di bawah 4 mmol/L yang lebih berbahaya.

Pasien hanya perlu menyesuaikan dosis insulin 1-2 kali seminggu berdasarkan pengamatan kadar tertinggi dan kadar terendah yang dicapainya. Yang ideal adalah mengukur kadar HbA tetapi ini tidak praktis dan mahal saat ini untuk Indonesia sehingga hal ini jarang sekali dilakukan.

Asupan energi maupun karbohidrat sederhana dan kompleks sebaiknya memadai sehingga pasien tetap dapat tumbuh dan berkembang dengan normal, tetapi obesitas harus dihindarkan. Asupan karbohidrat diatur dan dibagi sepanjang hari sesuai kadar gula darah yang dikehendaki yang penting total karbohidrat sebaiknya sesuai dengan kebutuhan sehari yang telah dihitung.

See also:  How To Cure Type 2 Diabetes?

Hipoglikemia dapat merupakan masalah yang utama dalam penggunaan insulin pada pengobatan diabetes. Pasien harus benar- benar mengerti bagaimana menghindari hal tersebut. Sering pasien yang diobati lupa atau tidak tahu bahaya hipoglikemia, dan ini dapat membahayakan terutama pada pasien yang mengendarai mobil, atau bekerja dengan mesin.

Upaya ketat untuk menangani diabetes dapat menurunkan batas kadar gula darah yang menimbulkan gejala hipoglikemi, begitu pula bila sering terjadi hipoglikemi; sehingga pasien tidak dapat mengenali ancaman hipoglikemi. Beta-bloker juga dapat menyebabkan hipoglikemi pada pasien seperti ini terjadi tanpa disadari (dan juga menunda penyembuhan hipoglikemi tersebut).

Supaya pasien kembali sensitif terhadap gejala hipoglikemi, penggunaan insulin dan pengaturan saat makan harus benar-benar diatur. Mengendarai, pengendara yang diobati dengan insulin dan obat antidiabetik oral agar berhati-hati. Jika terjadi hipoglikemia atau ada gejala, yang sebaiknya dilakukan adalah:

  • Menghentikan kendaraan ditempat aman;
  • Mematikan kontak/mesin;
  • Makan atau minum air mengandung gula secukupnya;
  • Tunggu sampai keadaan normal sebelum melanjutkan perjalanan, pengembalian ke keadaan normal mungkin memerlukan waktu sekitar 15 menit atau lebih dan lebih baik kalau dipastikan dengan mengukur kadar gula darah.

Diabetes dan Tindakan Bedah Dosis berikut adalah untuk penderita diabetes tipe 1 yang akan menjalani pembedahan dan membutuhkan infus insulin secara intravena selama 12 jam atau lebih.

  • Berikan injeksi insulin seperti biasa pada pasien pada malam hari sebelum pembedahan;
  • Pagi pada hari pembedahan, mulai diberikan infus glukosa 5% atau 10% secara intravena yang mengandung kalium klorida 10 mmol/liter (diberikan pada pasien yang tidak hiperkalemia) dengan kecepatan infus yang konstan sesuai kebutuhan cairan pasien (biasanya 125 ml/jam) buat larutan insulin soluble 1 unit/ml dalam larutan natrium klorida 0,9% dan berikan secara intravena mengunakan syringe secara “piggy backed” pada infus yang sedang terpasang;
  • Kecepatan infus insulin secara normal adalah sebagai berikut:
  • – Glukosa darah <4 mmol/liter, diberikan 0,5 unit/jam- Glukosa darah 4–15 mmol/liter, diberikan 2 unit/jam- Glukosa darah 15–20 mmol/liter, diberikan 4 unit/jam
  • – Glukosa darah > 20 mmol/liter, dikaji dahulu
  • Pada kasus resisten (seperti pasien syok atau sakit parah, atau pasien yang sedang mendapat kortikosteroid atau simpatomimetik) mungkin diperlukan 2–4 kali kecepatan infus ini atau bahkan lebih.
  • Jika pompa syringe tidak tersedia, 16 unit/liter insulin soluble sebaiknya ditambahkan ke dalam 5% atau 10% glukosa infus intravena yang mengandung 10 mmol/liter kalium klorida (diberikan pada pasien yang tidak hiperkalemia) dan infus diberikan dengan kecepatan yang sesuai kebutuhan cairan pasien (biasanya 125 mL per jam) dan dosis insulin disesuaikan sebagai berikut:
  • – Glukosa darah < 4 mmol/liter, diberikan 8 unit/liter;- Glukosa darah 4–15 mmol/liter, diberikan 16 unit/liter;- Glukosa darah 15–20 mmol/liter, diberikan 32 unit/liter;
  • – Glukosa darah > 20 mmol/liter, dikaji dahulu.

Kecepatan infus intravena tergantung dari kebutuhan cairan, fungsi jantung, usia dan faktor-faktor lain. Kadar gula darah sebaiknya diukur sebelum operasi dan kemudian setiap jam hingga kondisi gula darah stabil, kemudian setiap 2 jam. Lama kerja insulin intravena hanya beberapa menit dan infus tidak boleh dihentikan kecuali pasien menjadi sangat hipoglikemik (glukosa darah < 3 mmol/liter), saat mana infus sebaiknya dihentikan selama 30 menit. Jumlah kalium klorida yang dibutuhkan dalam infus perlu ditentukan dengan pengukuran berkala elektrolit plasma. Infus 0,9% natrium klorida dapat menggantikan infus 5% atau 10% glukosa jika glukosa darah bertahan di atas 15 mmol/liter. Setelah pasien mulai makan dan minum, berikan insulin subkutan sebelum sarapan dan hentikan insulin intravena 30 menit kemudian; dosis yang diperlukan mungkin 10–20% lebih banyak dari biasanya jika pasien masih di tempat tidur atau belum pulih. Jika sebelumnya pasien tidak pernah menerima insulin, dosis awal yang sesuai adalah 30–40 unit per hari dalam 4 dosis terbagi menggunakan insulin soluble sebelum makan dan insulin kerja sedang pada waktu akan tidur malam dan dosis disesuaikan dari hari ke hari. Pasien dengan hiperglikemia yang sering kambuh setelah konversi kembali ke insulin subkutan memerlukan salah satu pendekatan sebagai berikut:

  • Dosis tambahan insulin soluble pada salah satu dari empat kali penyuntikan (sebelum makan atau waktu tidur malam) atau
  • Penambahan sementara infus insulin intravena (sambil melanjutkan pemberian subkutan) hingga kadar glukosa darah memuaskan atau
  • Kembali ke pemberian intravena (terutama jika pasien tidak sehat).

: 6.1.1 Insulin | PIO Nas

Adblock
detector