Jumlah Penderita Diabetes Melitus Di Indonesia Menurut Who 2021?

Jumlah Penderita Diabetes Melitus Di Indonesia Menurut Who 2021
Ada 19,5 juta warga Indonesia berusia 20-79 tahun yang mengidap diabetes pada 2021. Jumlah itu menjadi yang terbesar kelima di dunia.

Berapa jumlah penderita DM di Indonesia?

Cina, India, dan Amerika Serikat menempati urutan tiga teratas dengan jumlah penderita 116,4 juta, 77 juta, dan 31 juta. Indonesia berada di peringkat ke-7 di antara 10 negara dengan jumlah penderita terbanyak, yaitu sebesar 10,7 juta.

Rank Berapakah Indonesia pada tahun 2021 dengan penyakit diabetes dari data IDF Atlas 2021?

KOMPAS.com – Data International Diabetes Federation (IDF) Atlas tahun 2021 menyebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-5 dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia. Angka ini meningkat hampir dua kali lipat hanya dalam waktu dua tahun, dibandingkan tahun 2019 sebesar 10,7 juta.

  1. Jumlah serangan diabetes di Indonesia mencapai 18 juta pada tahun 2020.
  2. Pada saat itu, prevalensi kasus tersebut meningkat 6,2 persen dibandingkan tahun 2019.
  3. Baca juga: Studi: Tingkat Penderita Diabetes dan Obesitas Rendah di Kota Ramah Pejalan Kaki Dilaporkan bahwa sejak tahun 2014, diabetes adalah tiga tertinggi penyakit penyebab kematian di Indonesia.

Hal ini dianggap cukup mengkhawatirkan, karena diabetes merupakan ‘ibu’ dari berbagai penyakit serius yang bisa meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas pasien. dr Syahidatul Wafa, Sp.PD, Staff Divisi Endrokin, Metabolik, dan Diabetes Departemen Penyakit Dalam RSCM- FKUI menyebutkan, diabetes adalah ibu atau biang dari segala penyakit.

  • Jadi memang benar, fakta kalau diabetes adalah ibu dari segala penyakit,” kata dr Wafa dalam media briefing virtual #BeatDiabetes Online Festival 2022 Tropicana Slim, Kamis (7/4/2022).
  • Dijelaskan dr Wafa, diabetes disebut sebagai ibu dari segala penyakit karena penyakit ini memang bisa memicu atau menyebabkan berbagai komplikasi penyakit serius terjadi di tubuh penderitanya, baik yang bisa disembuhkan maupun penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat diabetes adalah stroke, gagal ginjal, pembuluh darah pecah ke otak, penyakit kardiovaskular, masalah di gigi dan mulut, serta masih banyak lagi. Brand Manager Tropicana Slim, Noviana Halim menyampaikan, risiko komplikasi kesehatan ini dapat ditekan, jika kadar gula darah dikontrol dengan baik.

  1. Itulah mengapa, penting sekali menjaga kestabilan gula darah pada diabetesi dengan menjaga berat badan, pola makan sehat dan rutin berolahraga.
  2. Oleh karena itu, Tropicana Slim juga mengajak masyarakat Indonesia bersama-sama untuk terus mencegah dan melawan penyakit diabetes melalui kampanye #Beat Diabetes2022,” ajaknya.

Baca juga: Cara Menjaga Gula Darah Penderita Diabetes Tetap Terkendali Selama Puasa

Apa itu diabetes menurut who?

Menurut WHO, Diabetes Melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat dari insufisiensi fungsi insulin.

DM tipe 1 terjadi pada siapa?

Anak Juga Bisa Diabetes – Direktorat P2PTM 31 Oktober 2018 Jumlah Penderita Diabetes Melitus Di Indonesia Menurut Who 2021 dr. Prima Yosephine, MKM ; dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes ; Fulki Baharuddin Prihandoko dengan kedua orang tuanya ; dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K) ; Lawrence Chandra Apa itu Diabetes Melitus? Diabetes melitus (DM) atau penyakit kencing manis adalah gangguan metabolisme yang timbul akibat peningkatan kadar gula darah di atas nilai normal yang berlangsung secara kronis.

  1. Hal ini disebabkan adanya gangguan pada hormon insulin yang dihasilkan kelenjar pankreas.
  2. Insulin berfungsi mengatur penggunaan glukosa oleh otot, lemak atau sel-sel lain di tubuh.
  3. Apabila produksi insulin berkurang, maka akan menyebabkan tingginya kadar gula dalam darah serta gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein.

Pada umumnya, DM dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu DM tipe-1 dan DM tipe-2. DM tipe-1 disebabkan oleh pankreas yang tidak memproduksi cukup insulin, sementara DM tipe-2 disebabkan oleh gangguan kerja insulin yang juga dapat disertai kerusakan pada sel pankreas. Jumlah Penderita Diabetes Melitus Di Indonesia Menurut Who 2021 dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K) dari IDAI memberikan penjelasan tentang waspada diabetes anak pada acara Media briefing Anak Juga Bisa Diabetes,31 Oktober 2018 di Kementerian Kesehatan, gedung Adhyatma Jakarta. Angka Kejadian DM pada Anak Dalam 10 tahun Naik 700 % Seringkali DM dianggap sebagai penyakit orang dewasa.

  1. Namun demikian, DM juga dapat terjadi pada anak-anak dan remaja, khususnya DM tipe-1.
  2. Meskipun kasus DM tipe-1 yang paling banyak pada anak, terdapat kecenderungan peningkatan kasus DM tipe-2 pada anak dengan faktor risiko obesitas, genetik dan etnik, serta riwayat DM tipe-2 di keluarga.
  3. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan angka kejadian DM pada anak usia 0-18 tahun mengalami peningkatan sebesar 700% selama jangka waktu 10 tahun,

Jumlah kasus baru DM tipe-1 dan tipe-2 berbeda antar populasi dengan distribusi usia dan etnik yang bervariasi. Sejak September 2009 hingga September 2018 terdapat 1213 kasus DM tipe-1, paling banyak didapatkan di kota-kota besar seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan. Jumlah Penderita Diabetes Melitus Di Indonesia Menurut Who 2021 Testimoni Penyandang Diabetes Tipe 1 oleh Fulki Baharuddin Prihandoko (baju hitam) ditemani kedua orang tuanya pada Media briefing Anak Juga Bisa Diabetes, 31 Oktober 2018 di Kementerian Kesehatan, gedung Adhyatma Jakarta. Penyebab Diabetes Melitus pada Anak Penyebab DM tipe-1 adalah interaksi dari banyak faktor antara lain, kecenderungan genetik, faktor lingkungan, sistem imun, dan sel β pankreas yang perannya masing-masing terhadap proses DM tipe-1 belum diketahui. Jumlah Penderita Diabetes Melitus Di Indonesia Menurut Who 2021 dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular pada acara Media briefing Anak Juga Bisa Diabetes,31 Oktober 2018 di Kementerian Kesehatan, gedung Adhyatma Jakarta.

  • Gejala DM yang perlu diwaspadai
  • Berikut adalah gejala-gejala yang perlu diwaspadai jika anak menderita DM :
  • Anak dengan DM akan merasakan lapar terus-menerus meski baru selesai makan. Rasa lapar ini didorong oleh jumlah insulin yang tidak memadai sehingga gula tidak dapat diolah menjadi energi;
  • Anak akan merasa haus terus-menerus karena ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin sehingga tubuh mengalami dehidrasi;
See also:  What Are The Signs Of Type 2 Diabetes In Adults?

Banyak kencing dan mengompol

Rasa haus yang menyebabkan anak selalu minum tidak diimbangi dengan kemampuan tubuh untuk menyerap cairan dengan baik. Anak dengan DM akan lebih sering buang air kecil dari pada frekuensi normal, terutama di malam hari.

Penurunan berat badan yang drastis dalam 2-6 minggu sebelum terdiagnosis

Meski anak sering minta makan, tetapi tubuhnya tidak bertambah gemuk, melainkan cenderung kehilangan berat badan dalam jumlah yang cukup signifikan. Hal ini diakibatkan oleh ketidakmampuan tubuh dalam menyerap gula darah dalam tubuh sehingga menyebabkan jaringan otot dan lemak menyusut;

Kelelahan dan mudah marah

Tubuh anak yang tidak mampu menyerap gula dari makanan membuatnya kekurangan energi sehingga mudah merasa lelah. Anak juga akan mengalami gangguan perilaku dan perubahan emosi menjadi cepat marah dan murung;

Tanda kedaruratan lainnya yang perlu diwaspadai, antara lain sesak napas, dehidrasi, syok dan napas berbau keton.

DM tipe-1 tidak dapat dicegah dan siapapun dapat mengalaminya. Di Indonesia, DM tipe-1 pertama kali didiagnosis paling banyak pada kelompok usia 10-14 tahun dengan 403 kasus, kemudian kelompok usia 5-9 tahun dengan 275 kasus, kelompok usia kurang dari 5 tahun dengan 146 kasus, dan paling sedikit adalah usia di atas 15 tahun dengan 25 kasus. Jumlah Penderita Diabetes Melitus Di Indonesia Menurut Who 2021 dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K) ; dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular; Lawrence Chandra (Host) Pencegahan Diabetes Melitus Karena peningkatan DM tipe-2 diketahui dipengaruhi oleh obesitas, pencegahan dilakukan dengan dengan menerapkan gaya hidup sehat sebagai berikut :

  • Mempertahankan berat badan ideal. Jika anak memiliki berat badan berlebih, maka upayakan untuk menguranginya sekitar 5-10% untuk mengurangi risiko. Diet kalori dan rendah lemak sangat dianjurkan sebagai cara terbaik menurunkan berat badan dan mencegah DM tipe-2.
  • Perbanyak makan buah dan sayur. Dengan mengonsumsi berbagai macam buah dan sayur setiap hari, maka risiko DM tipe-2 dapat berkurang.
  • Kurangi minum minuman manis dan bersoda.
  • Aktif berolahraga. Upayakan untuk berolahraga setidaknya 30 menit dalam sehari untuk mencapai berat badan ideal dan menekan tingginya risiko DM tipe-2. Selain itu berolahraga juga bisa menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan kadar insulin.
  • Batasi waktu penggunaan gadget.

Jumlah Penderita Diabetes Melitus Di Indonesia Menurut Who 2021 Salah satu peserta dari Media dan Blogger bertanya pada Sesi Tanya Jawab Kontrol Metabolik dengan Tata Laksana yang sesuai Diabetes merupakan penyakit tidak menular yang tidak dapat disembuhkan. Akan tetapi dengan kontrol metabolik yang baik, anak dapat tumbuh dan berkembang selayaknya anak sehat lainnya.

Ontrol metabolik yang dimaksud adalah mengupayakan kadar gula darah dalam batas normal atau mendekati nilai normal tanpa menyebabkan anak malah menjadi kekurangan glukosa dalam darah. Pengelolaan dilakukan antara lain dengan pemberian tata laksana yang sesuai baik insulin maupun obat-obatan, pengaturan makan, olahraga, dan edukasi, serta pemantauan gula darah secara mandiri ( home monitoring ).

Untuk mencapai kontrol metabolik yang optimal ini dibutuhkan penanganan yang menyeluruh baik oleh keluarga, ahli endokrinologi anak atau dokter anak, ahli gizi, ahli psikiatri, psikologi anak, pekerja sosial, dan edukator.

  1. Peringatan Hari Diabetes Sedunia 2018
  2. Kementerian Kesehatan RI mengadakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia. Kegiatan yang dilakukan meliputi:
  3. 1) Melaksanakan sosialisasi dan diseminasi informasi tentang diabetes melalui berbagai media cetak, elektronik, dan media lainnya serta pemasangan spanduk, umbul-umbul berisi pesan tentang diabetes;
  4. 2) Membuat surat edaran kepada seluruh Dinas Kesehatan Provinsi di Indonesia terkait Hari Diabetes Sedunia untuk melakukan promosi kesehatan, deteksi dini, dan kerjasama dengan LSM untuk melakukan kegiatan yang melibatkan masyarakat.
See also:  Jenis Pisang Yang Baik Untuk Diabetes?

Kementerian Kesehatan RI memberikan himbauan kepada seluruh pihak termasuk media, swasta dan masyarakat untuk dapat berpartisipasi dan mendukung upaya pencegahan dan pengendalian DM. Kementerian Kesehatan juga mendorong Kementerian dan lintas sektor terkait lainnya untuk meningkatkan kerja sama dalam mengatasi masalah kesehatan sehingga semua kebijakan yang ada berpihak pada kesehatan. Jumlah Penderita Diabetes Melitus Di Indonesia Menurut Who 2021 dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K) NArasumber dari IDAI pada acara Media briefing Anak Juga Bisa Diabetes,31 Oktober 2018 di Kementerian Kesehatan, gedung Adhyatma Jakarta. : Anak Juga Bisa Diabetes – Direktorat P2PTM

Berapa GDP diabetes?

Gula darah puasa (GDP) Berikut ini merupakan kriteria kadar gula darah normal dari tes gula darah puasa: Normal (tidak menderita diabetes): di bawah 100 mg/dL. Prediabetes: 100-125 mg/dL. Diabetes: 126 mg/dL atau lebih.

Indeks glikemik tinggi berapa?

PERSPECTIVE-TEKNOLOGI PANGAN: MENGENAL INDEKS GLIKEMIK UNTUK KONSUMSI PANGAN SECARA SEHAT e-Foodtech Future – Indeks glikemik merupakan salah satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan suatu pangan, terutama pangan fungsional. Hal tersebut berkaitan dengan kemampuannya dalam mempengaruhi fisiologis manusia.

  1. Indeks glikemik (IG) merupakan suatu ukuran yang dikembangkan untuk mengklasifikasikan pangan berkarbohidrat berdasarkan pengaruh fisiologisnya terhadap kadar glukosa darah.
  2. Dalam hal ini, glukosa atau roti tawar dipakai sebagai standar dengan nilai 100 dan nilai IG makanan yang diuji merupakan persen terhadap standar tersebut.

Demikian disampaikan oleh Kavadya Syska, Koordinator Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto. Indeks Glikemik (IG) adalah suatu ukuran yang digunakan untuk mengindikasikan seberapa cepat karbohidrat yang terdapat dalam makanan dapat diubah menjadi gula oleh tubuh manusia.

Ukuran ini berupa skala dari 0-100. Sebagai contoh, gula murni misalnya memiliki angka indeks glikemik 100, ini berarti karbohidrat dalam gula murni sangat cepat diubah oleh tubuh menjadi gula untuk energi bagi tubuh. Indeks glikemik juga dapat menginformasikan bagaimana pengaruh makanan terhadap kadar gula darah dan insulin.

Semakin rendah nilai indeks glikemik maka akan semakin sedikit pengaruhnya terhadap level insulin dan kadar gula darah. Pada awalnya, karbohidrat diklasifikasikan menjadi dua yaitu karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks tergantung pada seberapa banyak gula sederhana yang terdapat dalam molekulnya.

Karbohidrat yang terdiri dari satu atau dua gula sederhana (seperti fruktosa atau sukrosa) disebut karbohidrat sederhana. Sementara makanan yang berpati disebut karbohidrat kompleks karena pati tersusun dari rantai panjang gula sederhana yaitu glukosa. Anjuran untuk lebih banyak mengonsumsi karbohidrat kompleks dibanding karbohidrat sederhana berasal dari asumsi bahwa makanan berpati hanya menaikkan sedikit kadar gula dalam darah setelah dicerna dibandingkan dengan gula sederhana.

Asumsi ini dinilai kurang sesuai karena respon gula darah terhadap masing-masing jenis makanan berkabohidrat kompleks berbeda-beda. Maka dari itu dicetuskan konsep indeks glikemik di mana masing-masing makanan diukur seberapa besar pengaruhnya terhadap kadar gula darah.

  • Untuk menentukan nilai indeks glikemik suatu makanan, para relawan dalam keadaan sehat akan diminta untuk mengonsumsi makanan yang mau diukur indeks glikemiknya, makanan ini setidaknya harus mengandung 50 gram karbohidrat.
  • Emudian relawan akan diminta untuk mengonsumsi makanan kontrol (berupa roti atau glukosa murni) dengan jumlah karbohidrat yang sama.

Setelah itu, kadar gula darah akan diukur secara berkala. Perubahan kadar gula darah setelah mengonsumsi kedua jenis makanan tersebut akan dikalkulasikan dan dibandingkan hingga ditemukan angka indeks glikemiknya. Semakin kecil angka indeks glikemik, maka akan semakin kecil dampaknya terhadap kadar gula darah Anda.

Indeks glikemik dikelompokkan menjadi: 70: tinggi. Contoh nilai indeks glikemik beberapa makanan antara lain: Roti tawar: tiap 30 gram nilai indeks glikemiknya sebesar 71 (tinggi). Pisang: tiap 120 gram nilai indeks glikemiknya sebesar 60 (sedang). Madu: tiap 25 gram nilai indeks glikemiknya sebesar 61 (sedang).

Jus tomat kaleng: tiap 250 ml nilai indeks glikemiknya sebesar 38 (rendah). Oatmeal: tiap 250 gram nilai indeks glikemiknya sebesar 55 (rendah). Apel: tiap 120 gram nilai indeks glikemiknya sebesar 39 (rendah). Kacang kedelai: tiap 150 gram nilai indeks glikemiknya sebesar 15 (rendah).

  • Wortel: tiap 80 gram nilai indeks glikemiknya sebesar 35 (rendah).
  • Indeks glikemik suatu makanan tidak selalu sama nilainya.
  • Beberapa faktor yang mempengaruhi nilai indeks glikemik yaitu: Cara mengolah atau mempersiapkan makanan: beberapa komponen dalam makanan seperti lemak, serat, dan asam (yang terdapat pada lemon atau cuka) secara umum bersifat menurunkan kadar indeks glikemik.

Semakin lama Anda memasak makanan berpati, seperti pasta misalnya, maka indeks glikemiknya akan semakin tinggi. Tingkat kematangan: pada buah-buahan terutama, tingkat kematangan akan sangat mempengaruhi nilai indeks glikemik. Sebagai contoh, semakin matang buah pisang maka nilai indeks glikemiknya akan semakin tinggi.

Makanan lain yang Anda makan: nilai indeks glikemik ditentukan berdasarkan masing-masing jenis makanan. Tetapi pada kenyataannya, kita cenderung lebih sering mengonsumsi beberapa jenis makanan sekaligus. Ini dapat mempengaruhi bagaimana tubuh mencerna karbohidrat. Jika Anda mengonsumsi makanan yang memiliki nilai indeks glikemik tinggi, disarankan untuk mencampurnya dengan makanan dengan nilai indeks glikemik rendah.

Kondisi tubuh: usia, aktivitas fisik, dan seberapa cepat tubuh Anda mencerna makanan turut mempengaruhi bagaimana tubuh Anda mencerna dan bereaksi terhadap karbohidrat. Meskipun indeks glikemik merupakan parameter yang dapat digunakan untuk mengontrol kadar gula darah Anda, tetapi indeks glikemik sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya parameter untuk memilih jenis makanan yang akan Anda konsumsi.

Sebagai contoh, keripik kentang memiliki nilai indeks glikemik yang rendah tetapi jika dilihat kadar lemak jenuhnya, keripik kentang memiliki kadar lemak jenuh yang cukup tinggi. Sehingga selain nilai indeks glikemik, Anda juga harus tetap memperhatikan kandungan gizi lain yang terdapat dalam makanan yang Anda konsumsi.

Sumber: wawancara dan olah pustaka Teknologi Pangan: Kreatif, Inovatif, Luar Biasa Teknologi Pangan: Developing Creative and Innovative Future : PERSPECTIVE-TEKNOLOGI PANGAN: MENGENAL INDEKS GLIKEMIK UNTUK KONSUMSI PANGAN SECARA SEHAT

See also:  Faktor Resiko Penyakit Diabetes Melitus Yang Dapat Diubah Yaitu?

Apakah ada diabetes tipe 3?

Minimnya kadar insulin dalam otak dapat menurunkan kerja dan regenerasi sel otak sehingga memicu terjadinya penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer sendiri termasuk ke dalam penyakit neurodegeneratif atau penurunan fungsi otak yang terjadi secara perlahan akibat berkurangnya jumlah sel-sel otak yang sehat.

  • Erusakan sel otak tersebut ditandai dengan penurunan kemampuan berpikir dan mengingat.
  • Suatu studi dari jurnal Neurology menunjukkan risiko Alzheimer dan demensia bisa berkali lipat lebih tinggi pada penderita diabetes dibandingkan dengan individu yang sehat.
  • Dijelaskan dalam studi tersebut hubungan antara diabetes dan Alzheimer sebenarnya merupakan hal yang kompleks.

Penyakit Alzheimer pada penderita diabetes kemungkinan disebabkan oleh resistensi hormon insulin dan tingginya kadar gula dalam darah sehingga menyebabkan kerusakan dalam tubuh, termasuk kerusakan dan kematian sel-sel otak. Kematian sel-sel otak tersebut disebabkan otak tidak memperoleh glukosa yang cukup.

  1. Padahal otak adalah organ vital tubuh yang paling banyak memerlukan gula darah (glukosa).
  2. Sementara itu, otak sangat bergantung pada hormon insulin untuk dapat menyerap glukosa.
  3. Saat otak tidak memiliki cukup insulin, asupan glukosa ke otak akan berkurang.
  4. Akibatnya distribusi glukosa menuju otak tidak merata dan sel otak yang tidak mendapatkan glukosa akan mengalami kematian dan memicu munculnya Alzheimer.

Meskipun demikian, terdapat mekanisme lain yang menjelaskan bahwa Alzheimer bisa saja terjadi dengan sendirinya tanpa mengikut penyakit diabetes. Namun, keduanya dipicu oleh faktor risiko yang serupa, yaitu pola konsumsi tinggi karbohidrat dan glukosa.

Mengapa penderita DM banyak makan?

Alasan penderita diabetes sering lapar – Merasa mudah atau sering lapar dan peningkatan nafsu makan pada pasien diabetes ternyata berkaitan dengan neurotransmitter atau senyawa kimia pembawa pesan antar sel saraf di dalam otak. Hal itu disampaikan oleh Dr. dr. Fatimah Eliana Taufik, Sp.PD, K-EMD, FINASIM dalam acara webinar yang diselenggarakan Diabetasol pada Kamis (10/11/2022). Jumlah Penderita Diabetes Melitus Di Indonesia Menurut Who 2021 Dr. dr. Fatimah Eliana Taufik, Sp.PD, K-EMD, FINASIM memberikan penjelasan terkait gaya hidup diabetesi dan kewajiban diabetesi untuk mengontrol gula darah.

  1. “Otak menghasilkan neurotransmitter yang menyebabkan rasa lapar dan kenyang,” ujar Eliana.
  2. Diabetes lantas membuat neurotransmitter terganggu, sehingga penderita diabetes menjadi sering lapar dan sulit merasa kenyang.
  3. Selain terkait dengan neurotransmitter, rasa lapar berlebihan juga disebabkan karena tubuh penderita diabetes tidak dapat memproduksi atau memanfaatkan insulin.

Hal itu membuat glukosa tetap berada di aliran darah lebih lama dan dikeluarkan. Ini berarti sel tidak memiliki energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi organ tubuh. Saat kondisi ini terjadi, sel-sel tubuh memberi sinyal bahwa kita harus terus makan demi mendapatkan glukosa yang cukup. Baca juga:

Apakah DM 1 bisa sembuh?

Pengobatan – Diabetes tidak bisa disembuhkan. Pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa darah dan mengendalikan gejala. Selain itu, pengobatan juga dilakukan untuk mencegah komplikasi yang dapat terjadi di kemudian hari. Beberapa pengobatan yang diberikan dokter, antara lain:

Insulin untuk mengontrol glukosa darah pengidap. Pemberian insulin ini dengan cara disuntikkan pada lapisan di bawah kulit sekitar 3-4 kali sehari sesuai dosis yang dianjurkan dokter. Pola makan sehat dan olahraga teratur untuk membantu mengontrol tingkat glukosa darah. Merawat kaki dan memeriksakan mata secara berkala untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Adblock
detector