Definisi Diabetes Menurut Who?

Definisi Diabetes Menurut Who
Menurut WHO, Diabetes Melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat dari insufisiensi fungsi insulin.

Apakah yang dimaksud dengan penyakit diabetes?

DETEKSI DINI BANTU CEGAH DIABETES PADA ANAK DIPUBLIKASIKAN PADA : SELASA, 17 NOVEMBER 2020 00:00:00, DIBACA : 6.811 KALI Jakarta, 17 November 2020 Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin.

  1. Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah.
  2. Permasalahan yang ada saat ini terkait penyakit DM adalah sebagian besar (sekitar 3 diantara 4 orang) penderita DM tidak menyadari kalau dirinya menderita penyakit DM dan kurangya kesadaran penderita melakukan kontrol secara berkala.
  3. Hal tersebut berdampak pada terus meningkatnya prevalensi penderita DM.

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 dan tahun 2018 menunjukkan bahwa tren prevalensi penyakit Diabetes Melitus di Indonesia meningkat dari 6,9% menjadi 8,5 %, sedangkan untuk faktor risikonya seperti obesitas pada orang dewasa dari 14,8% menjadi 21,8%.

DM tidak hanya diderita oleh orang dewasa, namun juga bisa terjadi pada anak-anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat terjadi peningkatan yang cukup signifikan DM tipe-1 pada anak dan remaja dari 3,88 menjadi 28,19 per 100 juta penduduk pada tahun 2000 dan 2010. Novina dari IDAI dalam temu media peringatan Hari Diabetes Sedunia tahun 2020, Selasa (17/11) mengatakan bahwa kenaikan kasus DM tersebut berkaitan erat dengan pola hidup kurang sehat seperti pola makan tidak tepat, kurang aktivitas fisik, obesitas, tekanan darah tinggi, dan gula darah tinggi.

Faktor risiko obesitas misalnya, Terlebih selama ini, muncul anggapan bahwa anak gemuk identik dengan sehat ataupun lucu. Padahal, kondisi tersebut justru dapat memicu timbulnya masalah kesehatan bagi anak. Gemuk itu belum tentu lucu dan sehat, hati-hati gemuk itu berarti kita menginvestasikan beberapa penyakit metabolic syndrome dll ketika anak sudah besar, kata Novina Ia menjelaskan DM pada anak dapat dikenali melalui beberapa gejala yang muncul seperti banyak kencing, sering mengompol, mudah lelah, serta sering banyak makan dan minum namun berat badan turun.

  1. Jika anak sudah mengalami beberapa gejala tersebut sebaiknya segera dibawa ke fasyankes terdekat untuk segera ditangani.
  2. Yang perlu diperhatikan bagi penderita DM di masa pandemi COVID-19, kita harus temukan diabetes seawal mungkin, sehingga pengobatan bisa diberikan secepat dan seawal mungkin, ucapnya.

Senada dengan Novina, Direktur Pencegahan Penyakit Tidak Menular Cut Putri Ariane mengatakan untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah telah melakukan upaya pencegahan yang proaktif dan persuasif di seluruh lapisan masyarakat. Salah satunya dengan menekankan pentingnya skrining secara berkala, supaya ketika ditemukan adanya penyakit tertentu dapat segera tertangani.

  1. Menurutnya, skrining harus dilakukan lebih rutin manakala gaya hidup yang dijalankan kurang sehat serta orang dengan faktor risiko.
  2. Untuk yang masih sehat, tidak memiliki faktor risiko, lakukanlah skrining secara berkala di fasilitas kesehatan di sekitar anda, kata Cut.
  3. Untuk deteksi dini, masyarakat bisa memanfaatkan Pos Binaan Terpadu (Posbidu) PTM.

Melalui program tersebut nantinya para kader secara rutin akan memberikan konseling, penyuluhan, serta aktivitas fisik. Selain Posbidu, ada pengelolaan PTM juga dilakukan melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Polanis). Kegiatan monitoring dan deteksi dini dengan memanfaatkan kepesertaan JKN.

Masyarakat dapat melakukan konsultasi kepada dokter terkait masalah kesehatan yang dihadapinnya. Bersama Posbidu, keduanya saling bersinergi untuk meningkatkan deteksi dini, penemuan dan rujukan tindak lanjut sesuai kriteria klinis. Cut menilai skrining awal harus diimbangi dengan gaya hidup yang sehat terutama di masa pandemi COVID-19.

Dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan di rumah, dikhawatirkan semakin banyak anak-anak maupun orang dewasa yang terjebak sedentari life, mengonsumsi makanan cepat saji, dan sering menghabiskan waktu dengan gawainya. Pola hidup yang demikian sangat berdampak buruk bagi kesehatan terutama bagi mereka pengidap PTM.

Untuk itu, Cut mengimbau kepada masyarakat baik yang sehat maupun orang dengan faktor risiko agar segera melakukan cek kesehatan secara berkala. Masyarakat bisa melakukannya secara mandiri ataupun memanfaatkan konsultasi di fasilitas layanan kesehatan seperti telemedicine atau polanis bagi peserta JKN.

Di masa pandemi, kami memantau banyak sekali pasien-pasien Diabetes Melitus yang tidak bergerak. Artinya diam di rumah, sehingga penyakit-penyakit ini tambah memburuk. Harusnya ini tidak terjadi, tutur Cut. Hotline Virus Corona 119 ext 9. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.

See also:  Why Does Diabetes Cause Trigger Finger?

Kapan seseorang dikatakan diabetes?

Mengenal Diabetes Mellitus

Apakah itu DIABETES MELLITUS (DM) ?

Diabetes mellitus atau yang dikenal dengan kencing manis/penyakit gula merupakan penyakit dimana kadar gula dalam darah cukup tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin sehingga gula didalam darah tidak dapat dimetabolisme.

  1. Apa Saja Tanda dan Gejala DM ?
    1. Sering kencing
    2. Rasa haus berlebihan
    3. Rasa lapar berlebihan
    4. Pandangan kabur
    5. Mudah Lelah
    6. Kadar gula darah tinggi
    7. luka lambat sembuh
    8. Berat badan turun drastis.

Apa saja Faktor Resiko DM ?

  • penyakit diabetes mellitus adalah penyakit degeneratif (penyakit tidak menular) yang tidak memiliki penyebab, namun memiliki faktor resiko.
  • a. faktor keturunan (genetik)
  • anak yang memiliki orang tua dengan riwayat penyakit Diabetes akan 3x lebih beresiko untuk terkena penyakit Diabetes.
  • b. Usia Lebih dari 40 tahun
  • seseorang dengan usia lebih dari 40 tahun akan lebih beresiko terkena penyakit diabetes mellitus terutama DM tipe 2.
  • c. Obesitas (kegemukan)

Kegemukan merupakan factor resiko Diabetes yang cukup besar. Mayoritas pasien diabetes mellitus tipe 2 berawal dari kegemukan.d. gaya hidup yang kurang sehat gaya hidup yang buruk merupakan salah satu factor resiko penyakit DM yang perlu diwaspadai. Kebanyakan orang lebih memilih makanan yang rasanya enak dibandingkan dengan makanan sehat.

Padahal, makanan dengan rasa yang enak belum tentu menyehatkan tubuh, dan kebanyakan makanan enak tersebut malah memperburuk kondisi tubuh jika dikonsumsi terus menerus.e. kurang beraktivitas dan kurang olahraga Olahraga merupakan salah satu pilar utama pengelolaan DM bersamaan dengan diet, obat, dan edukasi.

Berolahraga dapat membantu memperbaiki metabolisme glukosa dan lemak karena sel lebih sensitif terhadap insulin, di samping menurunkan dosis obat suntikan insulin. Olahraga dapat menunda kemunculan DM, membantu pengelolaan DM, dan mengurangi komplikasi DM f.

  1. Kerusakan jantung (pembuluh darah jantung)
  2. Kerusakan syaraf (neuropati) terutama didaerah perifer.
  3. Katarak dan kebutaan(retinopati)
  4. Kerusakan ginjal (Nefropati)
  5. Disfungsi seksual (Impotensi)
  6. Kerusakan pembuluh darah kaki
  7. Kematian jaringan.

Pencegahan Diabetes Mellitus Lakukan pengecekan gula darah secara rutin minimal 1 bulan sekali. Hal ini penting untuk mendeteksi kondisi diabetes secara teratur sehingga meminimalisir terjadinya komplikasi.

Konsumsi Makanan yang sehat dan jaga pola makan yang baik

Jangan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung gula, lemak/minyak dan garam dalam jumlah yang berlebihan.

  1. Menjaga Berat badan Ideal
  2. Olahraga secara teratur
See also:  What Are Ketones In Diabetes?

Berolahraga selama 150 menit/ minggu dengan latihan aerobic sedang atau selama 90 menit / minggu dengan gerakan aerobic berat. Latihan dapat dibagi menjadi 3-4x seminggu. Kriteria Diabetes Mellitus Seseorang dikatakan menderita diabetes mellitus apabila :

  1. Menunjukkan gejala DM + kadar gula darah sewaktu > 200gr/dl
  2. Menunjukkan gejala DM + kadar gula darah puasa > 126 gr/dl
  3. Kadar gula darah 2 jam pada tes toleransi glukosa oral (TTGO) lebih dari 200 gr/dl

: Mengenal Diabetes Mellitus

Gula darah Stabil berapa?

Tes gula darah secara acak – Jika tes gula darah dilakukan secara acak (tes gula darah sewaktu), maka hasilnya tidak bisa disamakan, tergantung dari kapan tes dilakukan dan apa yang dikonsumsi sebelum tes. Secara umum, kadar gula darah normal adalah 80-120 mg/dL atau 4.4-6.6 mmol/L, jika tes dilakukan sebelum makan atau setelah bangun tidur.

Apakah perlu puasa untuk cek HbA1c?

Diabetes Mellitus di Indonesia saat ini sebesar 10,9%. Indonesia menduduki urutan ke-7 dari 10 negara dengan penderita diabetes tertinggi di dunia. Prevalensi tersebut akan terus meningkat bila tidak ada upaya pencegahan dan program pengendalian yang efektif.

  1. Gula darah puasa
  2. Gula darah 2 jam setelah konsumsi glukosa 75 gram
  3. HbA1c

Pemeriksaan HbA1c adalah pemeriksaan dengan mengukur kadar atau prosentase glukosa yang terikat dengan hemoglobin. Hemoglobin adalah protein pembawa oksigen yang terletak dalam sel darah merah. Pemeriksaan ini tergantung dari kadar glukosa dan jumlah serta umur sel darah merah.

Rata-rata umur sel darah merah sekitar 120 hari. Jadi pemeriksaan HbA1c ini dapat memperkirakan kadar rata-rata gula darah dalam 3 bulan terakhir. Perbedaan pemeriksaan HbA1c dan pemeriksaan gula darah : Keduanya mengukur hal yang berbeda. Pada tes gula darah biasa, yang diukur adalah kadar gula darah saat itu juga.

Kadar gula darah bisa berubah-ubah sepanjang hari, tergantung makanan atau minuman yang dikonsumsi saat itu. Hasil pemeriksaan HbA1c tidak akan terlalu terpengaruh oleh asupan makanan pada saat pemeriksaan sehingga tidak perlu persiapan khusus seperti puasa.

  • Jika pada hari pemeriksaan HbA1c, pasien sengaja tidak makan gula tetapi di hari-hari sebelumnya mengonsumsi banyak gula, maka hasil HbA1c-nya akan tetap tinggi.
  • Sedangkan jika strategi ini dilakukan pada tes gula darah biasa maka hasilnya akan terbaca normal bahkan rendah Tujuan atau manfaat dilakukan pemeriksaan HbA1c : Karena dapat menggambarkan rata-rata kadar gula darah dalam 3 bulan terakhir maka manfaatnya adalah untuk mengontrol kualitas pengendalian kadar gula darah jangka panjang dan menilai efektifitas obat.

Dengan kata lain untuk memantau kepatuhan penderita diabetes minum obat dan kepatuhan menjalankan pola hidup sehat. Akan tetapi sekarang penggunaannya sudah lebih luas lagi yaitu untuk menegakkan diagnosis atau skrining Diabetes Mellitus khusunya DM tipe-2.

HbA1c (%) Glukosa darah puasa (mg/dL) Glukosa darah 2 jam setelah minum glukosa 75 gram
DIABETES ≥ 6,5 ≥126 ≥ 200
PREDIABETES 5,7 – 6,4 100 – 125 140 – 199
NORMAL < 5,7 < 100 < 140

Prosedur pemeriksaan HbA1c : Dapat dilakukan sewaktu-waktu, tidak perlu persiapan khusus misalnya puasa. Bahan pemeriksaan berupa darah yang diambil dari pembuluh darah vena (biasanya di lengan) atau pembuluh darah kapiler di ujung jari. Kelebihan pemeriksaan HbA1c :

  1. Tidak perlu puasa dan dapat diperiksa kapan saja
  2. Dapat memperkirakan keadaan glukosa darah dalam waktu yang lebih lama serta tidak dipengaruhi perubahan gaya hidup jangka pendek
  3. Kadar glukosa yang menempel pada hemoglobin sangat stabil, sehingga HbA1c dijadikan salah satu parameter diabetes mellitus di seluruh dunia
  4. Relatif tidak dipengaruhi oleh gangguan akut seperti stress atau penyakit terkait
  5. Lebih stabil dalam suhu kamar dibanding glukosa plasma
  6. Lebih direkomendasi untuk monitoring pengendalian glukosa
  7. Kadar HbA1c sangat berkorelasi dengan komplikasi diabetes
See also:  How To Treat Swollen Feet Diabetes?

Keterbatasan pemeriksaan HbA1c ::

  1. Terganggu oleh kondisi terdapat penyakit hemoglobin
  2. Terpengaruh oleh kondisi seperti anemia hemolitik, malaria kronis, perdarahan, anemia aplastic

Alasan pemeriksaan HbA1c penting dilakukan :

  1. Untuk mengidentifikasi kondisi prediabetes supaya tidak jatuh menjadi diabetes
  2. Menegakkan diagnosis diabetes
  3. Melihat efektifitas terapi dalam menurunkan kadar gula darah
  4. Menilai kepatuhan penderita minum obat dan penerapan pola hidup sehat

Pengertian prediabetes : Prediabetes adalah kondisi ketika kadar gula dalam darah sudah melebihi batas normal, tetapi belum cukup tinggi untuk dikategorikan sebagai diabetes. Alasan kondisi prediabetes menjadi sesuatu hal penting untuk diperhatikan: Prediabetes berpotensi meningkatkan risiko menjadi diabetes mellitus sebesar 2-10 kali lipat dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun.

Risiko terjadinya penyakit jantung pada prediabetes sama besarnya dengan DM. Karena itu tindakan-tindakan dan program pencegahan dini DM sangat diperlukan antara lain melalui penanganan prediabetes. Identifikasi dan penatalaksanaan awal bagi pasien prediabetes dapat menurunkan insiden DM serta komplikasinya.

Tanda-tanda dan gejala prediabetes: Dalam kebanyakan kasus, tidak ada tanda-tanda dan gejala yang jelas. Kebanyakan orang yang memiliki kondisi ini bahkan tidak mengalami keluhan kesehatan sama sekali. Namun banyak orang yang didiagnosa prediabetes merasakan tanda-tanda atau gejala sebagai berikut:

  • Sering haus
  • Sering buang air kecil
  • Sering merasa cepat Lelah
  • Penglihatan buram
  • Kulit menggelap di leher, ketiak, siku, lutut dan buku-buku jari
  • Nyeri persendian, otot dan tulang

Faktor risiko prediabetes: Faktor risiko terjadinya prediabetes sama dengan faktor risiko DM tipe 2, dapat dialami oleh siapapun. Akan tetapi ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang menderita prediabetes, yaitu :

  • Memiliki riwayat prediabetes atau diabetes dalam keluarga
  • Memiliki berat badan yang berlebihan/obesitas
  • Usia di atas 45 tahun
  • Menderita diabetes saat kehamilan (diabetes gestasional)
  • Menderita PCOS
  • Menderita hipertensi
  • Menderita kholesterol tinggi
  • Mengonsumsi terlalu banyak soda, makanan kemasan, daging merah dan minuman manis
  • Memiliki kebiasaan merokok
  • Kurang berolahraga atau melakukan aktivitas fisik

International Expert Committee menyatakan bahwa seseorang dengan nilai HbA1c rendah bukan berarti tidak berisiko diabetes, namun lebih tepat disebut berisiko rendah. Orang yang berisiko tinggi terkena diabetes dianjurkan mengurangi berat badan dan olah raga teratur. Rekomendasi International Expert Committee (2009) tentang peranan HbA1c dalam diagnosis dan identifikasi individu risiko tinggi :

  • HbA1c merupakan pemeriksaan yang akurat dan tepat dalam mengukur kadar gula darah yang kronis serta berkorelasi positif dengan terjadinya risiko komplikasi diabetes
  • HbA1c memiliki beberapa kelebihan dibandingkan glukosa plasma
  • Diagnosis ditegakkan jika nilai HbA1c ≥ 6,5%. Diagnosis sebaiknya dikonfirmasi dengan pengulangan pemeriksaan HbA1c. Konfirmasi tidak perlu bagi seseorang yang menunjukkan gejala dengan kadar glukosa plasma > 200 mg/dL
  • Jika HbA1c tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka dapat dilakukan pemeriksaan glukosa puasa dan 2 jam PP
  • Pemeriksaan HbA1c dapat diindikasikan pada anak dengan suspek diabetes namun tidak didapati adanya gejala klasik dan memiliki kadar glukosa ≤ 200 mg/dL
  • Kadar HbA1c 6,4% diduga lebih berisiko berkembang menjadi diabetes, tergantung pada factor risiko diabetes lainnya. Oleh sebab itu lebih baik melakukan usaha pencegahan.

Kegiatan Edukasi Kesehatan RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara dengan Narasumber : dr. Trinovia Andayaningsih, M.Sc. Sp. PK

Adblock
detector