Apa Saja Komplikasi Diabetes?

Apa Saja Komplikasi Diabetes
Apa saja komplikasi dan akibat dari Diabetes? – Direktorat P2PTM 28 Januari 2019 Apa Saja Komplikasi Diabetes Komplikasi Diabetes berkembang secara bertahap. Ketika terlalu banyak gula menetap dalam aliran darah untuk waktu yang lama, hal itu dapat mempengaruhi pembuluh darah, saraf, mata, ginjal dan sistem kardiovaskular. Komplikasi termasuk serangan jantung dan stroke, infeksi kaki yang berat (menyebabkan gangren, dapat mengakibatkan amputasi), gagal ginjal stadium akhir dan disfungsi seksual.

Penyakit diabetes bisa menyerang apa saja?

Diabetes – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan – Kabupaten Bogor Apa Saja Komplikasi Diabetes Diabetes adalah kondisi di mana kandungan gula dalam darah melebihi normal dan cenderung tinggi. Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit metabolisme yang mampu menyerang siapa saja. Diabetes mellitus (atau kencing manis) adalah kondisi kronis dan berlangsung seumur hidup yang mempengaruhi kemampuan tubuh dalam menggunakan energi yang dari makanan.

  1. Ada dua jenis utama dari penyakit ini: Tipe 1 dan Tipe 2.
  2. Sebanyak 350 juta orang di seluruh dunia mengidap diabetes.
  3. Pada tahun 2004, sekitar 3-4 juta orang meninggal karena kadar gula darah yang tinggi.
  4. Lebih dari 80% kematian akibat penyakit DM terjadi di negara dengan tingkat penghasilan menengah dan rendah.

WHO memperkirakan jumlah kematian akibat DM akan meningkat dua kali lipat selama periode 2005 – 2030. Penyebab Prinsip penyebab penyakit ini apapun jenisnya adalah terganggunya kemampuan tubuh untuk menggunakan glukosa ke dalam sel. Tubuh normal mampu memecah gula dan karbohidrat yang Anda makan menjadi gula khusus yang disebut glukosa.

  1. Glukosa merupakan bahan bakar untuk sel-sel dalam tubuh.
  2. Untuk memasukkan glukosa ke dalam sel dibutuhkan insulin.
  3. Pada orang dengan DM, tubuh tidak memiliki insulin (DM Tipe 1) atau insulin yang ada kurang adekuat (DM Tipe 2).
  4. Arena sel-sel tidak dapat mengambil glukosa, glukosa itu menumpuk dalam aliran darah.

Tingginya kadar glukosa darah dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal, jantung, mata, dan sistem saraf. Oleh karena itu, diabetes yang tidak ditangani dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, kebutaan, dan kerusakan saraf di kaki.

Kelaparan dan kelelahan, Tubuh mengubah makanan menjadi glukosa yang digunakan untuk menghasilkan energi. Ketika insulin tidak optimal lagi atau tidak ada, maka tubuh akan merasa mudah lelah dan cepat lapar. Kencing lebih sering dan menjadi mudah haus, Rata-rata orang biasanya berkemih antara 4–7 kali dalam 24 jam, tapi orang-orang dengan penyakit ini mungkin menjadi lebih sering. Mengapa? Biasanya ginjal akan menyerap glukosa diikuti oleh penyerapan air. Tetapi pada penderita diabetes, kadar gula darah sudah meningkat sehingga tubuh tidak mungkin menyerap ulang glukosa. Akhirnya, air yang melewati ginjal menjadi lebih banyak. Mulut kering dan kulit gatal. Karena semakin sering berkemih, terjadi kekurangan air pada bagian tubuh lainnya. Anda bisa mengalami dehidrasi dan mulut terasa kering. Kulit kering dapat membuat Anda gatal. Penglihatan kabur, Perubahan tingkat cairan dalam tubuh bisa membuat lensa di mata membengkak sehingga lensa mata berubah bentuk dan kehilangan kemampuan untuk fokus.

Pada kondisi tertentu, terdapat gejala-gejala yang cenderung muncul setelah glukosa telah tinggi untuk waktu yang lama.

Infeksi jamur, Baik pria maupun wanita dengan diabetes bisa terkena ini. Jamur menyukai glukosa, sehingga orang diabetes membuat jamur mudah berkembang. Infeksi dapat tumbuh dalam area kulit yang hangat dan lembab sepeti lipatan kulit yaitu di anntara jari tangan dan kaki, di bawah payudara, di sekitar organ intim Penyembuhan luka yang lambat, Seiring waktu, gula darah tinggi dapat mempengaruhi aliran darah dan menyebabkan kerusakan saraf yang membuat tubuh Anda sulit untuk menyembuhkan luka. Nyeri atau mati rasa di kaki. Penurunan berat badan. Jika tubuh tidak bisa mendapatkan energi dari Anda, sel akan mulai membakar otot dan lemak untuk mendapatkan sumber energi lainnya sebagai gantinya. Pasien akan kehilangan berat badan meskipun tidak berolahraga maupun tidak mengurangi makan. Mual dan muntah. Ketika tubuh membakar sumber energi lain selain glukossa, hasil pembakaran itu berupa “keton.” Darah dapat jatuh dalam kondisi pH asam, kondisi mungkin mengancam jiwa yang disebut ketoasidosis diabetikum, Keton dapat menyebabkan sakit perut, mual, dan muntah.

Pengobatan Diabetes Tipe 1 dan 2 Diabetes tipe 1 Diabetes tipe 1 juga disebut diabetes insulin-dependent, Dulu disebut juga dengan diabetes onset-anak, karena sering dimulai pada masa kanak-kanak. Namun seiring berjalannya waktu, banyak penelitian menunjukkan bahwa tipe ini bisa muncul juga pada orang dewasa.

Diabetes tipe 1 adalah kondisi autoimun. Ini disebabkan pankreas diserang dengan antibodi tubuh pasien sendiri. Pada penderita tipe ini, pankreas yang rusak tidak membuat insulin. Diabetes tipe ini dapat disebabkan oleh kecenderungan genetik. Sejumlah risiko medis yang berhubungan dengan diabetes tipe 1 Banyak dari mereka berasal dari kerusakan pembuluh darah kecil di mata Anda (disebut retinopati diabetik), saraf (neuropati diabetes), dan ginjal (nefropati diabetik).

Komplikasi Diabetes & Pencegahannya – Kelas Online Teman Diabetes

Bahkan risiko yang lebih serius adalah meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke. Pengobatan untuk tipe 1 ini adalah dengan pemberian insulin, dengan cara disuntikkan melalui kulit ke dalam jaringan lemak (biasasnya di jaringan lemak perut). Diabetes Tipe 2 Sejauh ini, bentuk paling banyak dari penyakit ini adalah diabetes tipe 2.95% kasus ditemukan pada orang dewasa.

See also:  Pemanis Sintetis Yang Aman Dikonsumsi Oleh Penderita Diabetes Adalah?

Tipe 2 ini dulu disebut dengan diabetes onset dewasa, tapi dengan epidemi banyaknya kasus obesitas pada anak-anak, banyak remaja baru yang juga mengalami tipe ini. Diabetes tipe 2 juga disebut non-insulin dependent diabetes. Diabetes tipe 2 biasanya lebih ringan daripada tipe 1 karena pankreas sebenarnya mampu menghasilkan insulin, namun karena gaya hidup dan makanan yang tidak terjaga, pankreas mengalami “kelelahan”.

Pankreas mampu menghasilkan sejumlah insulin. Tapi jumlah yang dihasilkan tidak cukup untuk kebutuhan tubuh atau sel-sel tubuh lainnya menjadi “kebal” terhadap insulin sehingga menjadi sel resisten insulin. Resistensi insulin, atau kurangnya sensitivitas terhadap insulin, kebanyakan terjadi pada sel lemak, hati, dan sel-sel otot.

Sama seperti tipe 1, tipe 2 mampu menyebabkan komplikasi kesehatan, terutama di pembuluh darah terkecil dalam tubuh seperti ginjal, saraf, dan mata. Diabetes tipe 2 juga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Orang yang mengalami obesitas – dengan berat badan lebih dari 20% dari berat badan ideal – beresiko sangat tinggi untuk terkena tipe ini.

Orang gemuk cenderung memiliki resistensi insulin. Dengan resistensi insulin, pankreas harus bekerja terlalu keras untuk menghasilkan lebih banyak insulin. Tapi meskipun begitu, tidak ada cukup insulin untuk menjaga gula normal. Tidak ada obat untuk penyakit ini.

  1. Pada awalnya, diabetes tipe 2 dapat dikendalikan dengan manajemen berat badan, nutrisi, dan olahraga.
  2. Biasanya, tipe ini berkembang lebih pesat pada akhirnya, sehingga obat antidiabetes sering dibutuhkan.
  3. Tes A1C adalah tes darah yang memperkirakan kadar glukosa rata dalam darah Anda selama tiga bulan sebelumnya.

Pengujian A1C periodik mungkin disarankan untuk melihat seberapa baik diet, olahraga, dan obat-obatan bekerja untuk mengontrol gula darah dan hasilnya dilihat untuk mencegah kerusakan organ. Tes A1C biasanya dilakukan beberapa kali dalam setahun. Hubungi dokter jika:

Merasa sakit perut yang sangat hebat, lemah, dan sangat haus Ketika kencing sangat sering dan banyak Bernapas lebih dalam dan lebih cepat dari biasanya (nafas Kusmaull, salah satu penanda kegawatan pada diabetes) Memiliki napas yang berbau manis seperti cat kuku. (Ini adalah tanda dari kadar keton yang sangat tinggi

(dr. Ursula Penny) http://doktersehat.com/diabetes/ : Diabetes – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan – Kabupaten Bogor

Apa penyebab penderita diabetes makin kurus?

PENURUNAN BERAT BADAN KARENA DIABETES – Ketika tubuh tidak mendapatkan glukosa dan energi dari makanan, maka tubuh memecah otot dan lemak Ketika jaringan untuk mendapatkan energi. Hal ini merupakan penyebab penderita diabetes sering kali mengalami penurunan berat badan secara drastis.

Perubahan berat badan dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti asupan kalori, tingkat aktifitas, kondisi kesehatan secara keseluruhan, usia, kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi, dan faktor ekonomi serta sosial. Penurunan berat badan yang signifikan tanpa sebab yang jelas kemungkinan merupakan tanda terjadinya gangguan medis yang mendasari.

Penurunan berat badan lebih dari 5% dalam kurun waktu enambulan sampai satu tahun pada orang dewasa dan lanjut usia memerlukan evaluasi medis oleh dokter. Salah satu masalah kesehatan yang mempengaruhi penurunan berat badan secara signifikan dan sebab yang jelas adalah gejala dari terjadinya diabetes mellitus.

Diabetes merupakan penyakit yang mempengaruhi metabolisme gula darah dalam tubuh. Glukosa merupakan sumber utama energi untuk sel-sel yang membentuk otot dan jaringan. Glukosa juga merupakan sumber utama nutrisi bagi otak. Kadar glukosa yang tinggi didalam tubuh disebabkan oleh glukosa yang tidak dapat masuk kedalam sel-sel tubuh.

Kondisi ini terjadi karena tubuh kekurangan hormon insulin atau terganggunya fungsi hormon insulin. Hormon insulin memiliki fungsi membantu glukosa masuk kedalam sel-sel tubuh sehingga kadar glukosa dalam darah dapat terkontrol dalam rentang normal. Diabetes memiliki beberapa tanda dan gejala seperti :

  • Peningkatan rasa haus Peningkatan rasa haus dapat terjadi meskipun sudah mengkonsumsi banyak cairan. Hal ini dikarenakan jaringan pada tubuh mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan ketika kadar glukosa tinggi dalam darah. Tingginya kadar glukosa dalam darah menyebabkan tubuh menarik cairan dari jaringan untuk mengencerkan darah dan menurunkan kadar glukosa dalam darah. Kondisi ini menyebabkan tubuh memberi sinyal bahwa tubuh sedang membutuhkan banyak cairan (peningkatan rasa haus). Hal ini juga yang dpaat meningkatkan terjadinya frekusensi buang air kecil.
  • Peningkatan frekuensi buang air kecil Hal ini berkaitan dengan terjadinya peningkatan rasa haus. Karena mengkonsumsi cairan berlebihan sehingga harus buang air kecil lebih sering. Selain itu, buang air kecil merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan kelebihan glukosa pada darah.
  • Mudah mengalami lapar Orang yang memiliki diabetes mellitus sering mengalami lapar. Hal ini terjadi karena jaringan pada tubuh tidak mendapatkan asupan energi dari makanan dan fungsi insulin untuk membantu glukosa masuk kedalam sel-sel tubuh terganggu. Oleh karena itu, jaringan mengirimkan pesan “lapar” agar mendapatkan lebih banyak glukosa dan energi.
  • Kehilangan berat badan secara drastis Ketika sel-sel tubuh tidak mendapatkan glukosa dan energi dari makanan, maka tubuh memecah otot dan lemak Ketika jaringan untuk mendapatkan energi. Hal ini merupakan penyebab terjadinya tubuh kehilangan berat badan.
  • Mudah mengalami kelelahan Hal ini terjadi karena tubuh tidak mendapatkan energi dari makanan yang dikonsumsi oleh tubuh sehingga menyebabkan tubuh mudah mengalami kelelahan.
See also:  What Is Secondary Diabetes?

Penanganan tanda dan gejala diabetes mellitus : Mengontrol kadar glukosa dalam darah merupakan kunci untuk mengatasi atau mengurangi tanda dan gejala diabetes mellitus. Perubahan pola hidup dapat dilakukan selain dengan mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter secara teratur.

  • Mengkonsumsi makanan sehat, seperti memperbanyak konsumsi sayur dan buah-buahan, meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung tinggi nutrisi dan serat, serta rendah lemak dan kalori.
  • Meningkatkan aktifitas fisik seperti berolahraga minimal 30 menit setiap hari. Olahraga dapat membantu menurunkan kadar glukosa dalam darah dengan membantu glukosa masuk kedalam sel-sel tubuh. olahraga juga meningkatkan kembali fungsi insulin.

Sudahkah Anda hidup sehat hari ini? Jika Sahabat Viva memiliki pertanyaan lebih lanjut, silahkan kirimkan melalui:

  1. Layanan Tanya Jawab Kesehatan melalui SMS Hotline atau Whatsapp di nomor 0812 919 08500
  2. Konsultasi Online pada hari Senin-Jumat pukul 08.00-17.00 WIB

Pertanyaan anda akan dijawab langsung oleh tenaga kesehatan kami. Kunjungi juga akun Instagram @vivahealthindonesia, Fanpage VivaHealthIndonesia dan [email protected] untuk melihat jadwal kegiatan Apotek Viva di kota Anda dan info kesehatan lainnya. Sumber :

  1. Mayo Clinic. (2014, 26 Agustus). Unexplained Weight Loss. Diperoleh 07 Maret 2017 dari : http://www.mayoclinic.org/symptoms/unexplained-weight-loss/basics/definition/sym-20050700
  2. Endocrineweb. (2016, 26 Juli). Type 2 Diabetes Symptoms. Diperoleh dari 07 Maret 2016 dari : https://www.endocrineweb.com/conditions/type-2-diabetes/type-2-diabetes-symptoms
  3. Mayo Clinic. (2014, 31 Juli). Diabetes. Diperoleh 07 Maret 2017 dari : http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diabetes/basics/treatment/con-20033091

Apakah diabetes melitus bisa menyebabkan kematian?

Halodoc, Jakarta – Pengidap diabetes sangat rentan mengalami kematian jaringan atau yang disebut gangrene. Kondisi ini merupakan sebuah kematian jaringan tubuh akibat adanya infeksi atau kurangnya suplai darah. Gangrene sangat rentan terjadi pada kaki, karena diabetes dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah.

    Apakah penyakit diabetes bisa mengakibatkan kematian?

    Tak Sadar Gula Darah Tinggi, Diabetes Berujung Komplikasi dan Kematian JawaPos.com – Diabetes merupakan induk dari segala penyakit akibat kadar gula darah yang tinggi. Penyakit ini dapat berujung komplikasi seperti jantung, stroke, dan ginjal, hingga berujung kematian.

    1. Urangnya pengetahuan masyarakat terutama di daerah terpencil membuat masyarakat tak sadar dan tak memahami jika kadar gula darahnya sudah tinggi, akibatnya tidak terkontrol.
    2. Dalam diskusi Novo Nordisk Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk Affordability Project baru-baru ini, akses penanganan diabetes bagi kelompok rentan di daerah terpencil dan sangat terpencil masih sulit.

    Fasilitas layanan primer seperti puskesmas menjadi ujung tombak. Direktur Pelayanan Kesehatan Primer, Kementerian Kesehatan Yanti Herman mengatakan selama ini tenaga kesehatan akan mendapatkan pelatihan pengelolaan diabetes, pendampingan kegiatan, pemenuhan alat dan insulin sesuai kebutuhan.

    1. Ia manambahkan orang dengan diabetes memerlukan pengobatan jangka panjang dan pendekatan komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
    2. Namun untuk menjawab kebutuhan ini, masih banyak tantangan yang terjadi di daerah terpencil dan sangat terpencil, seperti infrastruktur, sumber daya, dan kompetensi tenaga kesehatan yang terbatas.

    “Hal ini menyebabkan banyak kasus diabetes di daerah terpencil dan sangat terpencil yang harus dirujuk ke rumah sakit besar, tetapi isu geografis menyebabkan tidak semua pasien mau dan dapat pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. Banyak kasus yang menjadi tidak dapat dikontrol dengan baik,” kata Yanti.

    1. Diabetes Berujung Komplikasi Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat R.
    2. Nina Susana Dewi mengatakan diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi.
    3. Ontrol dan penanganan yang tepat akan menurunkan dampak kematian.
    4. Prevalensi diabetes di Jawa Barat menurut Riskedas 2018 adalah 1,74 persen atau sekitar 570.611 orang.

    “Memang diperlukan kolaborasi dan kerja keras dari petugas-petugas di lapangan, untuk mendapatkan data dan bagaimana kita bisa mengidentifikasi ulang pasien-pasien yang pernah diobati di Puskesmas,” kata Nina. Ketua PP PERKENI Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD, KEMD, FINASIM, mengatakan diabetes merupakan penyakit yang sangat kompleks dan progresif sehingga dapat menimbulkan kecacatan dan kematian.

    Diabetes pembiayaan yang begitu besar, baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Menurut data International Diabetes Federation (IDF), jumlah penderita diabetes terus meningkat dari 10,7 juta jiwa pada 2019 menjadi 19,5 juta pada 2021, membawa Indonesia ke peringkat kelima di dunia, naik dari peringkat tujuh pada 2019.

    Dari 19,5 juta penderita diabetes, diperkirakan bahwa 50 persen dari mereka belum terdiagnosa, hanya 13 persen pasien yang sudah terdiagnosa menjalani perawatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dan hanya 1,2 persen kasus yang terkontrol dengan baik.

    Apakah penyakit diabetes dapat menyebabkan kematian?

    13 April 2018 Apa Saja Komplikasi Diabetes Media Briefing Diabetes adalah penyakit yang berbahaya dan mematikan. Data milik Kementerian Kesehatan yang diperoleh dari Sample Registration Survey 2014 menunjukkan diabetes menjadi penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia dengan persentase sebesar 6,7%, setelah stroke (21,1%), dan penyakit jantung koroner (12,9%).

    Di Indonesia, prevalensi diabetes di Indonesia mengalami peningkatan dari 5,7% pada 2007 menjadi 6,9% atau sekitar 9,1 juta jiwa pada 2013. Data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas tahun 2017 menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia dengan jumlah diabetesi sebanyak 10,3 juta jiwa.

    Jika tidak ditangani dengan baik, World Health Organization bahkan mengestimasikan angka kejadian diabetes di Indonesia akan melonjak drastis menjadi 21,3 juta jiwa pada 2030.90% dari total kasus diabetes merupakan diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada orang dewasa, namun beberapa tahun terakhir juga ditemukan pada anak-anak dan remaja.

    Hal ini berkaitan erat dengan pola diet tidak seimbang dan kurang aktivitas fisik yang membuat anak memiliki berat badan berlebih atau obesitas. Orang yang hidup dengan diabetes tipe 2 memiliki gejala yang begitu ringan. Penderita tidak akan menyadari kondisi kesehatannya tengah terganggu dalam jangka waktu yang lama, sehingga penyakit ini pun cenderung terabaikan.

    Namun penyakit diabetes tipe 2 akan diam-diam merusak fungsi berbagai organ tubuh dan menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti penyakit kardiovaskular, kebutaan, gagal ginjal, dan amputasi anggota tubuh bagian bawah. Diabetes yang tidak ditanggulangi segera dapat menyebabkan penurunan produktivitas, disabilitas dan kematian dini.

    • Orang tua memegang peranan penting dalam melindungi keluarga dari diabetes.
    • Orang tua sebaiknya memperhatikan faktor gaya hidup tidak sehat yang menjadi pemicu diabetes tipe 2, antara lain jumlah asupan energi yang berlebih, kebiasaan mengonsumsi jenis makanan dengan kepadatan energi yang tinggi (tinggi lemak dan gula, kurang serat), jadwal makan tidak teratur, tidak sarapan, kebiasaan mengemil, teknik pengolahan makanan yang salah (banyak menggunakan minyak, gula, dan santan kental), serta kurangnya aktivitas fisik yang diakibatkan kemajuan teknologi dan tersedianya berbagai fasilitas yang memberikan berbagai kemudahan bagi sebagian besar masyarakat.

    Untuk melindungi keluarga dari diabetes tipe 2, berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan :

    Tidak makan sambil menonton TV Batasi penggunaan gawai Perbanyak aktivitas di luar ruangan Biasakan makan dengan keluarga Biasakan sarapan sehat Biasakan membawa bekal makanan sehat dan air putih dari rumah Batasi konsumsi makanan siap saji dan pangan olahan, jajanan, dan makanan selingan manis, asin, dan berlemak Perbanyak konsumsi sayur dan buah Tidak merokok dan minum minuman beralkohol Hindari konsumsi minuman ringan dan bersoda.

    Untuk mengendalikan diabetes, Kementerian Kesehatan juga telah membentuk 33.000 Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) untuk memudahkan akses masyarakat dalam melakukan deteksi dini diabetes. Kementerian Kesehatan pun telah mencanangkan gerakan CERDIK yang dapat dijadikan pedoman pencegahan diabetes bagi keluarga Indonesia.

    Cek kesehatan berkala yaitu periksa tensi, gula darah dan kolesterol secara teratur, serta mengendalikan berat badan ideal. Enyahkan asap rokok dan tidak merokok. Rajin aktivitas fisik minimal 30 menit sehari dengan prinsip baik, benar, teratur dan terukur. Diet seimbang dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, perbanyak konsumsi buah dan sayur, menekan konsumsi gula maksimal 4 sendok atau 50 gram per hari, serta menghindari makanan manis atau berkarbonasi. Istirahat yang cukup. Kelola stres dengan baik dan benar.

    Artikel Selanjutnya Hari Kartini 2018, Menkes Harapkan Peran Perempuan Selesaikan Masalah Kesehatan

Adblock
detector